Biologi - Pengenalan Mikroskop
PENGENALAN MIKROSKOP
Gabrielle Zhe (2101631033)
I. Tujuan dari praktikum ini adalah
memperkenalkan bagian – bagian mikroskop beserta fungsi dan cara kerjanya.
I.
Metodologi
2.1
Alat
·
Mikroskop
cahaya
·
Gelas
objek
·
Cover
glass
·
Tusuk
gigi
·
Pipet
tetes
·
Pinset
2.2
Bahan
·
Bawang
merah
·
Epitel
rongga mulut
·
Metilen
blue
·
Air
·
Preparat
khamir
·
Preparat
bakteri
III. Hasil dan Pembahasan
3.1. Hasil
No
|
Objek
|
Hasil
|
Keterangan
|
1
|
Huruf
“a”
|
Perbesaran
4x
|
Bayangan
maya, terbalik, diperbesar.
|
Perbesaran
10x
|
|||
3
|
Bawang
merah
|
Perbesaran
4x
|
A. Dinding sel
Sebagai
pelindung dan pemberi bentu sel
B. Kloroplast
Tempat
penyimpanan pigmen dan tempat untuk fotosintesis
C. Sitoplasma
Sebagai
pengisi ruang antar sel
|
Perbesaran
10x
|
|||
5
|
Epitel
rongga mulut
|
Perbesaran
4x
|
A. Membran sel
Sebagai
pelindung sel
B. Inti sel
Pusat
informasi kegiatan sel dan tempat data genetic
C. Sitoplasma
Sebagai
pengisi ruang antar sel
|
Perbesaran
10x
|
|||
7
|
Sel
khamir
|
Perbesaran
10x
|
A. Konidia
Tempat
berkumpulnya spora
B. Konidiofor
Hifa
terspesialisasi.
C. Hifa
Komponen
yang menyusun khamir.
|
Perbesaran 40x
|
|||
9
|
Sel bakteri perbesaran
100x
|
A. Membran sel
Sebagai
pelindung sel
B. Data genetik
Ekspresi
sel dan berguna bagi pewarisan sifat
C. Sitoplasma
Sebagai
pengisi ruang antar sel
|
3.2 Pembahasan
Mikroskop
adalah alat optik yang digunakan untuk mengamati objek yang berukuran sangat
kecil / renik. Mikroskop juga mampu memisahkan detail gambar objek dan membuat
detail terlihat jelas. Mikroskop memiliki klasifikasi berdasarkan kenampakan /
dimensi objek yang diamati dan berdasarkan sumber cahaya.
Berdasarkan
kenampakan objek yang diamanti, mikroskop terbagi atas mikroskop stereo dan
cahaya. Mikroskop cahaya membuat objek yang kita amati menjadi 2D, sedangkan
mikroskop stereo membuat objek yang kita amati menjadi 3D.
Sedangkan
mikroskop cahaya adalah mikrokskop yang bersumber dari cahaya. Sedangkan mikroskop
electron adalah mikroskop adalah mikroskop yang menggunakan electron untuk
mengamati objek. Mikroskop electron dapat menggunakan prinsip kerja pemantulan
electron (SEM) maupun tembakan gun electron (TEM). SEM menggunakan pemantulan
electron yang menyebabkan hasil bayangan berupa tipografi dari objek tersebut.
Sedangkan TEM menggunakan tembakan electron yang membuat hasil tembusannya
dapat melihat struktur dari sel tersevut secara jelas. Sehingga baik untuk
mempelajari struktur dan bentuk selnya.
1.
Bagian
mekanis
Bagian mekanis dianggap penting,
karena sengat berperan agar mikroskop tersebut dapat digunakan dengan baik.
Contohnya:
·
Dasar/kaki
yang berbentuk ladam / tapal kuda. Fungsinya untuk menopang badan mikroskop
sehingga dapat berdiri tegak. Pada kaki ini terdiri suatu pilar yang kokoh
tempat bertumpu bagian yang dianggap sebagai pegangan / lengan mikroskop dengan
sistem perengselan penggerak yang berfungsi mengatur posisi sesuai dengan yang
dikehendaki (biasanya mampu digerakkan ke posisi tegak lurus sampai dengan agak
condong/condong ke arah belakang).
·
Selanjutnya
bagian panggung / meja sediaan mikroskopis (di sebelah depan atas pilar). Meja
sediaan ini biasanya dilengkapi dengan suatu lubang (tepat di tengah), untuk
meluruskan cahaya yang berasal dari diafragma yang terletak di bawah meja.
·
Terdapat
juga Penjepit sediaan. Fungsinya untuk menjepit kaca preparat agar tidak
berubah posisinya apabila sedang diamati.
·
Ada
kalanya beberapa tipe mikroskop yang lain dijumpai bagian X / Y transitional
control knob. Yaitu penggeser yang mampu menempatkan posisi sediaan mikroskopis
ke arah samping kanan kiri atau depan belakang/untuk menempatkan letak struktur
yang tepat pada sediaan sesuai yang dikehendaki.
·
Tepat
di bawah meja sediaan/lurus dengan lubang sinar di tengah-tengahnya, melekat
dengan kondensor yang berfungsi untuk memfokuskan sinar masuk dari cermin ke
benda yang diamati.
·
Tepat
di bawah kondensor terdapat diafragma dengan fungsi untuk mengatur kebutuhan
(banyak sedikitnya sinar masuk).
2.
Bagian
optik.
·
Makrometer
memiliki fungsi untuk mendekatkan meja preparat dengan lensa objektif.
·
Micrometer
memiliki fungsi untuk mempertajam bayangan.
·
Lensa
objektif untuk memperjelas bayangan. Lensa objektif ada beberapa jenis yang
terbagi berdasarkan warnanya. Warna merah untuk perbesaran 4x, warna kuning untuk perbesaran 10x, warna
hijau untuk perbesaran 20x, Warna biru untuk perbesaran 40x, warna putih untuk
100x.
·
Lensa
okuler untuk memperbesar bayangan dari lensa objektif.
·
Lensa
kodensor berfungsi untuk mengumpulkan cahaya yang masuk. Lensa ini mudah
digerakkan untuk dilepas dari dudukannya pada tabung. Pada lensa ini tertulis
angka-angka yang membesarkan yakni berkisar 6 X, 10 X, 12,5 X dan 15 X.
Perkalian antara angka-angka yang tertera pada lensa okuler dengan lensa
objektif merupakan perbesaran total sebuah mikroskop (misal kita menggunakan
lensa okuler 10 X; kombinasi lensa objektif 10 X; berarti perbesaran total
adalah 100 X).
·
Revolver
berfungsi untuk memutar lensa objektif agar dapat digunakan sesuai yang
diinginkan.
Dalam mengamati objek,
diperlukan cairan tertentu untuk mengamati objek yang akan diamati. Contohnya
adalah minyak imersi dan metilen blue. Minyak imersi biasanya digunakan dalam
pengamatan lensa objektif diatas 100x. Hal ini karena semakin besar
perbesarannya, maka semakin kecil kemampuan daya pisahnya. Dengan semakin kecil
daya pisahnya, maka semakin sulit untuk mengamati objeknya, karena resolusinya
menjadi buruk. Untuk itu, kita dapat meningkatkan daya pisah mikroskop dengan
cara memperbesar indeks bias. Cara memperbesar indeks bias adalah dengan
mengoleskan minyak imersi pada objek. Hal ini karena indeks bias minyak identic
dengan indeks bias kaca dan minyak imersi mampu membiaskan cahaya mendekati
garis normal. Selain itu penambahan minyak emersi berguna untuk menghilangkan
udara yang terletak di antara lensa objektif dengan gelas objek, sehingga sinar
yang masuk ke dalam lensa objektif tidak dibiaskan.
Selain
itu kita menggunakan metilen blue pada pengamatan sel epitel rongga mulut. Hal
ini karena sel epitel saat diamati memiliki warna yang bening. Sehingga objek
menjadi sulit diamati. Untuk itu, sel hewan diberi pewarnaan dengan metilen
blue. Sehingga pembagian bayangan bagian dalam sel epitel / organel dapat
terlihat dengan jelas.
Khamir
adalah organisme eukariot, uniseluler, dan heterotroph yang termasuk ke dalam
kingdom eumycota dan keberadaannya tersebar pada berbagai habitat (Nagahama
2006 : 240). Khamir dapat membentuk lapisan filament di atas permukaan medium
cair. Sulit membedakan antara khamir dengan bakteri pada medium agar.
Sel
khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang 1-5 µm sampai
20-50µm, dan lebar 1-10µm. Berdasarkan jenisnya yang merupakan sel eukariotik,
struktur khamir tidak akan berbeda jauh dengan sel hewan dan tumbuhan. Sehingga
cara membedakan sel khamir dengan sel lain adalah dengan identifikasi sel
khamir. Caranya bisa dilakukan dengan konvensional dan molecular. Identifikasi
khamir secara konvensional dilakukan berdasarkan karakter morfologi, fisiologi,
dan biokimia (Barnett dkk. 2000 : 17). Caranya dengan memperhatikan organel
maupun bagian dari sel khamir. Namun karakter sel khamir memiliki morfologi
yang sederhana dan tidak memiliki banyak variasi sehingga karakter morfologi
tidak dapat digunakan untuk mengidentifikasi hingga tingkat spesies. (Guarro
dkk 1999 : 459). Oleh karena itu, diperlukan karakterisasi fisiologi dan
biokimia untuk identifikasi pada tingkat spesies (Yarrow 1998 : 89).
Selain
itu kita juga mengamati sel hewan dan tumbuhan. Berdasarkan teori yang ada, sel
hewan dan sel tumbuhan memiliki berbagai perbedaan. Sel tumbuhan umumnya
memiliki dinding sel, kloroplast, dan data genetiknya terdapat pada kloroplas,
nucleus, dan mitokondria. Sedangkan sel hewan memiliki sentriol dan data
genetiknya hanya terdapat pada nucleus. Namun pada percobaan yang berlangsung,
sel hewan yang terlihat berupa membrane sel, intisel, dan sitoplasma. Sedangkan
pada sel tumbuhan, terlihat berupa dinding sel, membrane sel, dan sitoplasma.
Pada
percobaan pertama, kita menemukan sifat dari mikroskop ialah maya, diperbesar,
dan terbalik. Hal ini terbukti dari percobaan huruf “a” yang diamati dengan
mikroskop. Bayangan yang teramati pada mikroskop berupa huruf “a“ yang terbalik
dan ukurannya lebih besar dari yang ditulis. Sehingga pada perbesaran objektif
40x, bayangan huruf “a” sulit teramati karena ukurannya menjadi lebih besar.
Pada
percobaan kedua, kita mengamati bayangan dari hasil sayatan melintang bawang
merah. Pada perbesaran 4x, terlihat bayangan sel bawang merah. Terlihat secara
keseluruhan struktur dari selnya. Sedangkan saat diperbesar menjadi 10x lensa
objektif, bayangannya menjadi lebih besar, namun kurang fokus. Hal ini
dikarenakan ketipisan objek yang kurang dan kurang teliti dalam mencari
bayangan. Sel bawang merah memiliki bentuk yang sangat teratur antara selnya.
Hal ini menandakan bahwa sel bawang merah memiliki dinding sel. Karena dinding
sel mampu memberi bentuksel dan melindungi sel. Selain itu terdapat ruang
kosong dalam sel bawang yang menandakan adannya sitoplasma. Karena sitoplasma
memiliki fungsi mengisi ruang antar sel.
Pada
pengamatan sel epitel, penggunaan metilen blue membantu penjelasan bayangan
epitel. Namun bayangan sel kurang jelas akibat kurang tepat saat mengoleskan
sel epitel. Sehingga sel menjadi bertumpuk. Namun tetap dapat terlihat bentuk
pemisahannya antar membrane sel dan inti selnya. Sehingga yang terlihat dalam
pengamatan sel hewan adalah membrane sel, sitoplasma, dan inti sel / nucleus. Membran
sel berfungsi untuk melindungi sel namun tak membentuk sel. Sitoplasma
berfungsi untuk mengisi ruang antar sel. Inti sel berfungsi sebagai penyimpan
data genetic dan informasi kegiatan sel.
Pada
pengamatan sel khamir, pengamatan tidak terlalu sulit terlihat. Karena preparat
yang telah disiapkan sudah memiliki syarat ketipisan yang tepat. Berdasarkan
pengamatan sel khamir, sel tersebut seperti sel dari fungi kelompok ascospora.
Hal ini karena adanya ciri khas bentuknya seperti kipas. Bagian sel khamir yang
didapat adalah konidia dan batangnya bernama konidiofor, serta hifa pada bagian
bawahnya. Konidia adalah tempat berkumpulnya spora, konidiofor adalah hifa terspesialisasi.
Sedangkan hifa berfungsi sebagai salah satu komponen yang menyusun khamir.
Pada
pengamatan sel bakteri, pengamatan sangat besar kendalanya. Hal ini karena
waktunya yang sedikit. Selain itu penggunaan minyak imersi yang terlalu sedikit
membuat daya pisah lensa menjadi kurang optimal. Namun berdasarkan hasil dari
kelompok lain, sel bakteri hanya terlihat dinding sel dan sitoplasma. Selain
itu juga terlihat seperti ada DNA pada bagian dalam sel. Dinding sel berfungsi sebagai pelindung sel
dan terkadang berguna saat pewarnaan bakteri, sitoplasma berfungsi untuk
mengisi ruang antar sel, dan DNA sebagai data genetic.
I.
Daftar
Pustaka
UI.
(2008). Identifikasi Khamir.
Diperoleh 11 Oktober 2017, dari http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/124098-BIO.003-08-Identifikasi%20khamir-Pendahuluan.pdf
UNY.
(Tanpa Tahun). Mikroskop. Diperoleh
11 Oktober 2017, dari http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/tmp/MIKROSKOP.pdf
UT.
(Tanpa Tahun). Penggunaan Mikroskop, Alat
Bantu Ukur, Jaringan Hewan, dan Morfologi pada Hewan Vertebrata. Diperoleh
11 Oktober 2017, dari http://repository.ut.ac.id/4470/1/BIOL4441-M1.pdf
Comments
Post a Comment