Biologi - Respirasi Anaerobik
RESPIRASI
ANAEROBIK
Gabrielle Zhe ( 2101631033 )
I. Tujuan pada praktikum ini adalah untuk
dapat mempelajari proses respirasi anaerobik yang terjadi pada mikroorganisme
melalui percobaan pembuatan produk fermentasi.
I. Tinjauan Pustaka :
Respirasi adalah proses pembebasan
energi kimia di dalam tubuh organisme melalui reaksi oksidasi (penambahan
oksigen) pada molekul organik. Dari peristiwa tersebut akan dihasilkan energi
dalam bentuk Adenosin Trifosfat (ATP) dan CO2 serta H2O.
(Fathoni, Ahmad .
2017 ). Umumnya respirasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti oksigen, temperartur,
dan substrat. Ketiga hal ini penting, seperti oksigenakan dibutuhkan bila
respirasi aerobik dan tidak diperlukan bila respirasi anaerobik. Suhu tertentu
dapat membuat enzim pada proses respirasi tidak bekerja dengan optimal. Selain
itu jumlah dan jenis substrat juga mempengaruhi keberhasilan proses respirasi.
Respirasi
terdapat dua jenis yaitu respirasi anaerob dan respirasi aerob. Dimana respirasi anaerob adalah respirasi yang tidak menggunakan oksigen pada saat
pembentukan ATP dan respirasi aerob adalah respirasi yang menggunakan oksigen
saat pembentukan ATP. Respirasi aerob dan anaerob sama – sama menggunakan
glukosa sebagai substrat dalam prosesnya. Kedua proses tersebut bahkan diawali
dengan proses yang sama, yaitu proses glikolisis. Namun kedua proses ini
memiliki perbedaan yang besar. Hal ini karena respirasi aerob diperlukan untuk membakar
zat makanan yang dikonsumsi agar dapat menjadi energi, melalui hasil ATP dalam
jumlah yang besar. Sedangkan respirasi anaerob biasanya tidak menghasilkan ATP
dalam jumlah besar. Sebab biasanya energinya juga digunakan untuk produk
sampingan. Contoh proses respirasi anaerob adalah proses fermentasi.
Fermentasi diartikan sebagai suatu proses oksidasi, reduksi
yang terdapat di dalam sistem biologi yang menghasilkan energi yang mana
sebagai donor dan akseptor elektron digunakan senyawa organik. Senyawa organik
tersebut akan diubah menjadi sedertan reaksi yang dikatalisis oleh enzim
menjadi suatu bentuk lain, contohnya aldehid, alkohol dan jika terjadi oksidasi
lebih lanjut akan terbentuk asam. (Winarno dan Fardiaz, 1990). Umumnya
fermentasi dapat berupa fermentasi asam laktat dan alkohol. Pada percobaan
pertama, kita membuktikan reaksi fermentasi menghasilkan produk sampingan
selain ATP, seperti etanol dan karbon dioksida. Reaksi yang terjadi berupa :
C6H12O6
+ Mikroorgansime à 2 C2H5OH + 2 ATP + 2 CO2
Selain itu, kita akan melakukan
fermentasi tape. Tape merupakan makanan selingan yang sangat dikenal dan
digemari oleh masyarakat. Tape dapat difermentasi oleh Saccaromyces Cereviceae dari singkong dan ubi. Namun pada percobaan
kali ini kita akan menggunakan singkong. Tape memiliki rasa manis dan
mengandung sedikit alcohol, memiliki aroma yang meyenangkan dengan tekstur
lunak dan berair (Hidayat, et al., 2006). Rasa manis dan sedikit beralkohol ini
akibat dari pengubahan gula menjadi etanol. Hal yang harus diperhatikan dalam
fermentasi adalah substrat, jenis mikroorganisme, dan cara penyimpanan. Karena
bila terdapat kesalahan dalam faktor tersebut, produk yang diinginkan tidak
akan tercapai.
I. Metodologi :
3.1.
Alat
· Erlenmeyer
500 ml
· Parafilm
· Selang
penghubung
· Tabung
reaksi
· Termometer
· Daun
pisang
· Spatula
· Loyang
kecil
· Tali
3.2.
Bahan
· 50
gram gula
· 100
ml air
· 25
gram CaCO3
· 0,5
sachet Ragi (Fermipan)
· Singkong
· Air
kapur
· Phenolphthalein
( indicator pp )
· Alcohol
·
Ragi tape
I. Hasil dan Pembahasan :
4.1.
Hasil
· Tabel 1. Hasil Pengamatan Kuantitatif Respirasi Anaerob
|
No
|
Pengamatan
|
Foto
|
Keterangan
|
|
1
|
Sebelum
|
|
Suhu awal = 35 OC
Air kapur = berwarna
pink
Larutan fermipan = ada
gelembung
|
|
2
|
Sesudah
|
|
Suhu akhir = 39 OC
Air kapur = berwarna
keruh
Larutan fermipan = ada
gelembung dan banyak busa-busa
Waktu akhir = 07.53
menit
|
Tabel 2. Hasil Produk Tape Setelah 3 Hari
|
No
|
Tape
|
Kel
|
Pengamatan
|
Tekstur
|
Warna
|
Aroma
|
Rasa
|
|
1
|
Diperam
|
1
|
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
2
|
|
4
|
5
|
5
|
4
|
||
|
2
|
Dibuka
|
1
|
|
1
|
1
|
1
|
1
|
|
2
|
|
|
|
|
|
4.2.
Pembahasan
Seperti yang kita tahu, respirasi terdapat respirasi aerob
dan respirasi anaerob. Proses aerob diawali dengan glikolisis dan menghasilkan
asam piruvat. Lalu asam piruvat dilanjutkan dengan proses derkaboksilasi dengan
menghasilkan asetil ko - A. lalu dilanjutkan dengan siklus kerbs dan menghasilkan
energi. Proses detailn fermentasi
diawali dengan gula dengan glikolisis menghasilkan piruvat. Selanjutnya
piruvat akan mengeluarkan karbon dioksida dan menghasilkan asetaldehid. Lalu
akan dihasilkan etanol sebagai produk akhir.
Pada percobaan pertama, kita menguji hasil proses fermentasi.
Ada beberapa indikator yang digunakan. Indikatornya berupa thermometer, air
kapur dengan phenolphthalein. Termometer berfungsi untuk mengukur suhu larutan
gula dan ragi. Air kapur berfungsi sebagai pengikat CO2 hasil fermentasi
agar tidak lepas ke udara. Phenolphtalein berfungsi untuk melihat adanya
perubahan pH akibat penangkapan CO2.
Fermentasi pada tape tidak terlalu berbeda dengan respirasi
anaerob umumnya. Reaksi kimia yang terjadi berupa :
C6H12O6 +
Saccaromyces Cereviceae
à 2 C2H5OH + 2 ATP + 2 CO2
Pada percobaan pertama, kami melakukan pengamatan
terhadap reaksi respirasi anaerob yang menggunakan fermipan dan air gula. Pada
percobaan tersebut, repirasi berlangsung selama 7 menit. Dari percobaan ini,
respirasi anaerob menghasilkan ATP yang ditandai dengan adanya kenaikan suhu
pada larutan gula dan fermipan. Selain itu muncul produk CO2
ditandai dengan adanya perubahan warna larutan air kapur dengan phenolphtalein
yang mengkeruh dan muncul seperti gas pada selang di arah larutan air kapur dan
phenolphtalein. Selain itu larutan pada gula dan fermipan seperti muncul gas
yang naik. Lalu adanya etanol ditandai dengan bau dari larutan gula dan
fermipan yang berubah.
Pada percobaan kedua, singkong yang diperam bagi kelompok
1 memiliki kenampakan yang kurang baik. Hal ini karena muncul seperti bintik
putih pada tape. Rasa yang dihasilkan kurang baik, bau / aroma yang dihasilkan seperti
bau tanah, tekstur pada tape masih terdapat tekstur keras / tak merata.
Sedangkan pada percobaan kedua, singkong yang diperam bagi kelompok 2 memiliki
kenampakan seperti tape pada umumnya. Rasa yang dihasilkan terlalu beralkohol /
pedas, bau / aroma yang dihasilkan seperti bau tape pada umumya, tekstur pada
tape lembut. Terdapat kedua perbedaan pada singkong yang diperam karena faktor
pembungkusan singkong saat diperam, takaran mikroorganisme fermentasi tape, dan
sanitasi saat proses pemeraman. Lalu pada singkong yang dibiarkan terbuka
memiliki kenampakan masih seperti songkong. Rasa yang dihasilkan tidak
diketahui akibat tak layak konsumsi, bau / aroma yang dihasilkan masih seperti
singkong namun sdeikit berbau khas tape, tekstur pada tape sangat keras.
I.
Kesimpulan :
Kesimpulan dari praktikum ini adalah bahwa proses
respirasi anaerob dan fermentasi menghasilkan produk berupa kelompok alkohol,
karbon dioksida, dan sedikit ATP. Lalu dalam pembuatan tape faktor yang harus
diperhatikan adalah ketidakadaannya oksigen dalam fermentasi, jumlah starter
yang digunakan, dan kemerataan dalam memberikan starter pada singkong.
I. Daftar Pustaka :
Champbell, N.A, dkk. 2002. “Biologi”- Edisi lima Jilid
satu. Erlangga: Jakarta.
Dwidjoseputro.
1986. Biologi. Erlangga. Jakarta.
Simbolon,
Karlina. 2008.“Pengaruh Presentase Ragi Tape dan Lama Fermentasi terhadap Mutu
Tape Ubi Jalar”. Skripsi Fakultas
Pertanian. Sumatra Utara.
Universitas
Dipenogoro. 2010. ” Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kadar Alkohol, pH, dan
Produksi Gas pada Proses Fermentasi Bioetanol dari Whey dengan Substitusi Kulit
Nanas”. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. 1 (2): 74 – 75.
Comments
Post a Comment