Cairan dan Padatan


CAIRAN DAN PADATAN
Gabrielle Zhe (2101631033)

I.      Tujuan :
1.     Menentukan faktor – faktor yang mempengaruhi wujud zat. 
2.     Menentukan titik cair dan titik didih.
II.    Tinjauan Pustaka
Zat di dunia memiliki berbagai wujud. Wujud zat tersebut adalah padat, cair, gas, dan plasma. Zat padat umumnya paling sering kita temui di sekitar kita. Zat padat mempunyai molekul dengan struktur teratur dari Kristal sempurna. (Aktins, 2001 : 217). Oleh karena itu zat padat memiliki struktur yang lebih kokoh. Selain itu, zat padat memiliki sifat yaitu,  memiliki bentuk tetap dan volume yang tetap serta sedikit terpengaruh oleh tekanan.
Sedangkan zat cair adalah zat benda yang memiliki ikatan molekul yang tidak sekuat zat padat. Zat cair memiliki sifat yaitu bentuknya yang mengikuti wadah dan memiliki volume yang tetap karena zat cair mengisi ruang wadah dengan baik.
Zat gas adalah zat yang ikatan molekulnya sangat lemah. Selain itu zat gas tidak dapat dilihat / digenggam. Hal ini karena partikelnya berpencar dan bergerak secara bebas. Selain itu, zat gas memiliki sifat berupa, mudah dipengaruhi tekanan, volumenya berubah, dan bentuknya berubah.
Plasma secara garis besar adalah gas terionisasi. Suatu gas dikatakan terionisasi jika terdiri dari atom-atom yang terionisasi bermuatan positif dan elektron yang bermuatan negatif. Plasma terbentuk dari gas terionisasi di dalam tabung, yang digolongkan menjadi dua yaitu terionisasi lemah dan terionisasi kuat. Terionisasi lemah apabila derajat ionisasi lebih rendah dari 10-4 sedangkan terionisasi kuat apabila derajat ionisasi lebih besar dari 10-4 (Santoso. B, 1976: 67). Meskipun plasma merupakan gas terionisasi, namun tidak semua gas terionisasi disebut plasma (Konuma dkk, 1992: 48). Contohnya air pada suhu kamar akan berwujud cair. Jika mencapai suhu rendah maka akan berubah menajdi solid. JIka air diberi energi, maka air menjadi uap / gas yang terdiri atas gas hidrogen dan gas oksigen. Bila uap tersebut diberi energi, maka uap akan terionisasi menjadi ion – ion yang dimana nantinya akan terjadi keseimbangan antara electron dan molekul.
Wujud zat ini dapat berubah bila mengalami perubahan wujud dari satu ke wujud lainnya. Biasanya dapat dilakukan dengan cara proses – proses tertentu yang menggunakan temperature dan tekanan. Oleh karena itu, kita mengenal titik leleh, titik lebur, dan titik didih.


III.  Metodologi
3.1 Alat
·       Breaker glass 100 mL
·       Breaker glass 250 mL
·       Breaker glass 400 mL
·       Tabung reaksi besar
·       Labu soxhlet 250 mL
·       Kawat kasa + Asbes
·       Kaki tiga
·       Pembakar spiritus
·       Parafilm
·       Gelas arloji
·       Timbangan
·       Termometer
·       Hot plate
·       Stopwatch
·       Spatula

3.2 Bahan
·       NaCl
·       Aquadest
·       Es
·       Kristal iodin
·       Korek api

IV.  Langkah Kerja

a.     Menentukan titik leleh dan titik didih air
a.     Menentukan titik cair es
1.     Masukkan batu es ke dalam gelas breaker hingga 100 mL.
2.     Tambahkan aquadest hingga tidak ada ruang kosong.  
3.     Celupkan ujung thermometer di antara batu es.
4.     Perhatikan dan catat suhu es setiap 30 detik.
5.     Bila suhu sudah konstan selama 4 -5 x, maka percobaan diakhiri dan gambarkan diagramnya 
.
b.     Tetapan Kalorimetri
·       Titik didih aquadest
1.     Masukkan 100 mL aquadest ke dalam glass breaker.
2.     Panaskan air pada hotplate dengan suhu 3000C sambil memasukkan thermometer.
3.     Perhatikan dan catat suhu es setiap 2 menit.
4.     Bila suhu sudah konstan selama 4 -5 x, maka percobaan diakhiri dan gambarkan diagramnya.
·       Titik didih aquadest
1.     Masukkan 100 mL aquadest dan 10 gram padatan NaCl ke dalam glass breaker.
2.     Panaskan larutan NaCl  pada hotplate dengan suhu 3000C sambil memasukkan thermometer.
3.     Perhatikan dan catat suhu es setiap 2 menit.
4.     Bila suhu sudah konstan selama 4 -5 x, maka percobaan diakhiri dan gambarkan diagramnya.


V.    Hasil dan Pembahasan

5.1 Hasil
Tabel A Titik cair es
Detik ke
0
30
60
90
120
150
Suhu
7 0C
5 0C
3.5 0C
3.5 0C
3.5 0C
3.5 0C

Tabel B. Titik didih air
Menit ke
Aquadest
Aquadest + NaCl
0
27
27
2
32
49
4
46
59
6
61
69
8
72
77
10
82
82
12
88
87
14
88
90
16
88
92
18
88
92
20

92
22

92

  
Tabel B Penyubliman
Peristiwa
Gambar
Keterangan
Saat Awal
Pada suhu ruangan, iodin berupa padatan Kristal berwarna ungu.
Saat Akhir
Terdapat padatan iodin yang menjadi uap berwarna ungu mengelilingi ruang dalam gelas kimia.

Uap iodin menjadi kristal iodin yang menempel pada bagian bawah labo soxhlet.

5.2 Pembahasan
         Pada reaksi ini kita mengenal adanya diagram fase. Diagram fase merupakan diagram yang menjelaskan adanya perubahan wujud zat akibat adanya perbedaan suhu dan tekanan. Pada diagram fasa, kita mengenal adanya titik kritis, titik tripel, dan sempadan fase. Titik kritis adalah titik dimana fase cair dan gas sudah maksimalnya dan tak dapat berubah lagi dan tidak dapat dibedakan. Titik tripel adalah titik dimana kesetimbangan termodinamika antar ketiga fase tersebut. Sedangkan sempadan fase adalah garis non analitis yang memisahkan antar fase. Berikut ini adalah contoh diagram fase :

Dari diagram fase, kita pun dapat mengetahui penyebab perubahan yang terjadi. Seperti perubahan fase cair ke padat atau pun sebaliknya terjadi akibat perubahan suhu. Sedangkan perubahan fase padat ke gas maupun sebaliknya dapat dipengaruhi oleh suhu. Sedangkan perubahan fase gas ke cair maupun sebaliknya dipengaruhi oleh adanya perubahan tekanan. Perubahan – perubahan fase inilah yang sering ditemukan pada kehidupan sehari – hari. Seperti mentega yang dapat meleleh bila dipanaskan, baju yang mongering akibat penguapan oleh sinar matahari, atau pun munculnya embun pada daun di pagi hari.              
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, ditemukan bahwa titik cair es adalah 3.5 0C. Hal ini tentu menjadi angka yang kurang tepat. Hal ini karena suhu awal es adalah 5 0C. Artinya suhu mengalami penurunan. Padahal faktanya, berdasarkan gambar diagram fase, untuk mencapai proses pencairan / peleburan, dibutuhkan kalor, sehingga suhu akhir akan lebih tinggi dari suhu awalnya. Hal ini terjadi karena mungkin terjadi kesalahan dalam membaca alat ukur, maupun kesalahan dalam meletakkan alat ukur.           Lalu pada percobaan kedua, kita melihat perbandingan suhu didih pada aquadest dan aquadest dengan garam NaCl. Dilihat dari waktunya, munculnya uap pada cairan lebih cepat terjadi pada aquadest. Hal ini karena melepas ikatan antar molekul air lebih mudah dibandingkan dengan melepas ikatan antara molekul air dengan ion Na+ maupun dengan ion Cl-.  Dari suhunya dapat terlihat bahwa suhu konstannya, Aquadest memiliki suhu yang tidak setinggi aquadest dengan garam NaCl. Hal ini karena adanya usaha / energy yang lebih yang dibutuhkan untuk melepaskan ikatan antara air dengan ion NaCl. Sehingga titik uap pada larutan NaCl lebih besar dibandingkan titik uap pada aquadest.                                               
Bila dibandingkan dengan hasil percobaan, maka suhu didh pelarut lebih rendah dibandingkan suhu didih larutan. Terlihat pada diagram alir.                     
Pada percobaan kedua, kita mengamati adanya perubahan fasa akibat suhu dan tekanan. Pada percobaan awal, iodine berupa padatan berwarna gelap. Lalu akibat pemanasan, tekanan udara dalam gelas breaker berisi iodine Kristal mengecil. Sehingga Kristal iodin pun menghasilkan uap iodine yang terbang keatas gelas breaker. Akibat penutupan dengan labu soxhlet, uap iodine melayang dan terbang di dalam gelas breaker. Lalu saat adanya pemberian air dingin pada labu soxhlet, warna uap iodin menjadi memudar hingga memutih. Hal ini karena air dingin membuat suhu di bagian bawahnya menjadi dingin. Hal ini karena disaat suhu udara sedang panas, lalu kita langsung memasukkan air dingin / es ke dalamnya, membuat gas tersebut hilang karena berubah menjadi padatan yang menempel pada bagian bawah labu soxhlet. Jadi bila kita lihat pada diagram fase, kejadian ini adalah perubahan dari solid ke gas dan sebaliknya.

VI.  Kesimpulan 
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi perubahan wujud adalah tekanan dan suhu. Selain itu, titik didih dan titik cair ditemui dengan cara melihat keadaan dimana suhu suatu larutan / cairan tidak dapat berubah lagi. Karena itulah batas titik didih / leleh suatu larutan / cairan.

                                                                                                   

VII.                    Daftar Pustaka

Anwar, Budiman. 2005. Kimia. Bandung : Yrama Widya.

 P. Papon, J. Leblond, and P.H.E. Meijer, The Physics of Phase Transition - Concepts and Applications Springer 1999

Syarifudin. 2008. Kimia. Tangerang : Scientific Press.

Syukri. 1999. Kimia Dasar I. Bandung : ITB.

UNY. 2008. Plasma. Diperoleh 26 Oktober 2017


Comments

Popular posts from this blog

Reaksi Kimia

Biologi - Pengenalan Mikroskop

Kalori