Elektrolisis


ELEKTROLISIS
Gabrielle Zhe (2101631033)


I.       Tujuan dari praktikum ini adalah menentukan daya hantar elektrolisis KI dan NaCl.

II.     Langkah Kerja

                                    2.1      Alat
·        Gelas kimia
·        Pipa U
·        Power supply
·        Batang karbon
·        Kabel
·        Mulut Buaya
·        Label
·        Statif
·        Penjepit


                                    2.2      Bahan
·        KI 0.25 M
·        NaCl 0.25 M
·        Aquadest
·        Agar – agar
·        Indikator Phenophtalein


III.    Hasil dan Pembahasan
3.1  Hasil
Tabel 1 Elektrolisis KI 0.25 M dengan Aquadest

Anoda
Katoda
Setelah Elektrolisis
Anoda + PP
Katoda + PP
Larutan KI 0.5 M
Aquadest




Tabel 2 Elektrolisis NaCl 0.25 M dengan Aquadest

Anoda
Katoda
Setelah Elektrolisis
Anoda + PP
Katoda + PP
Larutan NaCl 0.5 M
Aquadest

3.2  Pembahasan
            Elektrokimia adalah cabang ilmu kimia yang berkenaan dengan interkonversi energy listrik dan energy kimia (Chang, 2005). Dalam proses elektrokimia, tidak hanya membicarakan proses pengubahannya, namun juga mempelajari proses oksidasi dan reduksi. Sehingga dalam proses elektrokimia, terdapat kemungkinan adanya reaksi spontan dan tidak spontan. Hal ini karena menurut (Chang, 2005), reaksi redoks merupakan proses transfer electron yang tentunya menghasilkan energy listrik karena reaksi spontan dan menggunakannya untuk menjalankan reaksi tidak spontan.
            Dalam reaksi elektrokimia, sering adanya istilah sel elektrokimia. Sel elektrokimia adalah tempat berlangsungnya reaksi elektrokimia. Dalam sel elektrokimia terdapat 2 jenis, yaitu katoda dan anoda. Oleh karena itu, pada penulisan notasi sel, terdapat bagian katoda dan anoda. Katoda adalah elektroda tempat terjadinya reaksi reduksi (Purba, 2000). Anoda adalah elektroda tempat terjadinya reaksi oksidasi (Purba, 2000).
            Ada 2 jenis sel elektrokimia, yaitu sel volta dan sel elektrolisis. Sel volta adalah reaksi redoks spontan yang digunakan untuk menghasilkan arus listrik (Michael Purba). Mudahnya, sel volta adalah sel elektrokimia yang menggunakan energy kimia menjadi energy listrik. Sel elektrolisis reaksi redoks spontan yang digunakan sebagai sumber energy untuk melansungkan reaksi redoks nonspontan (Purba, 2000). Mudahnya, sel elektrolisis adalah sel elektrokimia yang menggunakan energy listrik menjadi energy kimia.
            Berdasarkan teori yang telah dikemukakan, ditemukan beberapa perbedaan antara sel volta dengan sel elektrolisis. Perbedaan pertama adalah sel volta mengonversikan energy kimia menjadi energy listrik. Sedangkan sel elektrolisis mengonversikan energy listrik menjadi energy kimia. Lalu sel volta menghasilkan potensial sel yang positif dan sel elektrolisis menghasilkan potensial sel yang negative. Sehingga sel volta merupakan reaksi spontan dan sel elektrolisis merupakan reaksi tidak spontan. Zat-zat yang dapat dielektrolisis  adalah leburan dan larutan yang mengandung ion terlarut (Achmad, 2001:46).
            Dalam kehidupan sehari – hari sel elektrokimia, terutama sel elektrokimia memiliki manfaat. Contoh yang pertama adalah penyepuhan listrik. Proses dimana suatu katode dapat dilapisi oleh logam lain melalui elektrolisis. Bahan yang akan dilapisi dipasang sebagai katode dalam larutan ion logam pelapis. Kedua elektroda dibenamkan dalam larutan garam dari logam penyepuh dan dihubungkan dengan arus searah (Chang, 2003:225). Sebagai contoh , sendok yang akan dilapisi emas, sendok  dipasang sebagai katode dan emas dipasang sebagai anode dalam larutan garam logam penyepuhnya. Prinsip ini juga berguna dalam pelapisan pipa bawah tanah dengan zat anti korosi, contohnya besi dilapisi magnesium.
            Selain penyepuhan listrik, terdapat manfaat lain dari elektrolisis. Manfaat tersebut berupa pembuatan beberapa zat kimia seperti natrium, magnesium, aluminium, dan hidrogen peroksida. Contoh lainnya berupa pemurnian logam dari zat pengotor.
            Pada percobaan ini, terdapat jembatan garam berupa agar – agar yang diletakkan pada pipa U. Jembatan garam umunya digunakan apabila electrode -elektrode harus dicelupkan ke dalam larutan yang berbeda dan tidak bercampur (Rivai, 2007 : 261 – 262). Dalam hal ini dapat diketahui bahwa jembatan garam berfungsi untuk mengalirkan electron dari suatu larutan ke larutan lain yang tidak bersama di satu wadah.
            Pada percobaan pertama, digunakan aquadest dengan larutan KI 0.5 M. Elektrode yang digunakan adalah batang karbon. Sehingga reaksi redoks yang terjadi adalah :

                  KI(Aq) à K+(Aq)  + I-(Aq)
   Katoda : 2 H2O (l)  + 2 e à H2 (g)  + 2 OH -(Aq)   
   Anoda  : 2 I- (Aq)              à I2 (g)  + 2 e

            Pada pengamatan hasil percobaan, tidak ditemukan gelembung gas pada batang karbon. Hal ini karena konsentrasi larutan yang kecil. Sehingga tidak cukup kuat untuk membuat gelembung gas. Namun pada anoda / larutan KI, warna larutan setelah dielektrolisis dan diberi indikator PP, warna larutan menjadi kuning bening. Hal ini karena pada anoda, pH larutan tidak terlalu basa. Sehingga indikator PP tetap tidak berwarna. Karena Fenolftalein mempunyai trayek pH 8,3-10,0 (Bassett, et al, 1994), dengan perubahan warna dari tak berwarna ke merah. Namun ketidakberwarnaan itu terkena iodin yang memiliki ciri khas berwarna sedikt coklat. Namun karena konsentrasinya rendah, maka warna yang ditunjukan lebih berwarna kuning bening.
            Pada bagian katoda, setelah ditetesi indikator PP dan dielektrolisis, warna larutan menjadi pink muda. Hal ini karena pada katoda, terdapat hasil berupa ion OH disamping hasil berupa gas hidrogen. Itu artinya, terjadi kenaikan pH menjadi lebih basa, sehingga warna larutan akhir berupa warna pink muda bening.
            Pada percobaan kedua, digunakan aquadest dengan larutan NaCl 0.5 M. Elektrode yang digunakan adalah batang karbon. Sehingga reaksi redoks yang terjadi adalah :

                  NaCl(Aq) à Na+(Aq)  + Cl-(Aq)
   Katoda : 2 H2O (l)  + 2 e    à H2 (g)  + 2 OH -(Aq)   
   Anoda  : 2 Cl- (Aq)              à Cl2 (g)  + 2 e

            Pada pengamatan hasil percobaan, tidak ditemukan gelembung gas pada batang karbon. Hal ini karena konsentrasi yang digunakan juga rendah. Pada bagian anoda, warna larutan setelah ditetesi indikator phenolphthalein dan dielektrolisis adalah tetap bening. Hal ini karena pada bagian anoda, hasil berupa klorin. Klorin tidak memiliki warna / bening pada larutannya.
            Pada bagian katoda, terjadi perubahan warna larutan setelah diberi indikator phenolphthalein dan dielektrolisis. Hal ini karena pada katoda terdapat hasil berupa ion hidroksida disamping gas hidrogen. Karena adanya kenaikan pH menjadi lebih basa, maka warna indikator yang awalnya tidak berwarna pada aquadest menjadi berwarna pink muda.

IV.           Daftar Pustaka

Achmad, H. (2001). Kimia Larutan. Bandung : PT Citra Aditya Bakti

Bassett, J., Denney, R.C., Jeffrey, G.H., dan Mendham, J. (1994). Buku Ajar Vogel: Kimia            Analisis Kuantitatif Anorganik. Alih Bahasa A. Hadnyana P. Dan L. Setiono. Vogel’s             Textbook of Quantitative Inorganic Analysis Including Elementary Instrumental Analysis,        Fourth Edition. 1991. Jakarta: EGC.

Chang , Raymond. (2005). Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga

Purba, Michael. (2000). Kimia 2000. Jakarta : Penerbit Erlangga

Rivai. (2007). Kimia Organik Universitas. Jakarta : Balai Pustaka



Comments

Popular posts from this blog

Reaksi Kimia

Biologi - Pengenalan Mikroskop

Kalori