Hidrokarbon dan Kimia Organik

HIDROKARBON DAN KIMIA ORGANIK
Gabrielle Zhe (2101631033)


I.       Tujuan
1.  Mengidentifikasi sifat fisik dan kelarutan senyawa hidrokarbon
2.  Mengamati perubahan reaksi yang terjadi pada alkan, alkena, dan senyawa aromatic

II.     Langkah Kerja
                                    2.1      Alat

·        Pipet tetes
·        Tabung reaksi
·        Pipet ukur
·        Pengaduk
·        Gelas ukur
·        Kaca arloji
·        Korek api
·        Label 


                                    2.2      Bahan
·        Bahan Minyak goreng
·        Sikloheksana
·        Toluen
·        H2SO4 pekat dan KMnO4 1 %


III.    Hasil dan Pembahasan
3.1       Hasil
Tabel 1 Sifat Fisik Hidrokarbon
No
Bahan
Pengamatan
1
Sikloheksana + Aquadest
2
Toluen + Aquadest
3
Minyak goreng + Aquadest
4
Sikloheksana + Minyak Tanah
5
Toluen + Minyak Tanah
6
Minyak Goreng + Minyak Tanah


Tabel 2 Reaksi Pembakaran Hidrokarbon

No
Bahan
Pengamatan
1
Sikloheksana
++
2
Toluen
+++
3
Minyak goreng
+


Tabel 3 Reaksi dengan KMnO4

No
Bahan
Pengamatan
1
Sikloheksana
2
Toluen
3
Minyak goreng


Tabel 4 Reaksi dengan H2SO4 Pekat

No
Bahan
Pengamatan
1
Sikloheksana
2
Toluen
3
Minyak goreng

3.2     Pembahasan
Senyawa hidrokarbon adalah senyawa organic yang hanya memiliki atom karbon dan hidrogen sebagai penyusunnya. Hidrokarbon yang paling sederhana adalah alkana, yaitu hidrokarbon yang hanya mengandung ikatan kovalen tunggal (Wilbraham, 1992).
Menurut (Syukri, 1999), hidrogen dan senyawa turunannya terbagi menjadi 3 kelompok besar berupa hidrokarbon alifatik, hidrokarbon alisiklik, dan hidrokarbon aromatic. Dimana hidrokarbon alisiklik adalah senyawa organik yang rangkaian atom-atom karbonnya terbuka atau tidak membentuk lingkar (Sumardjo. 2009: 82). Hidrokarbon alisiklik, sesuai namanya, adalah senyawa hidrokarbon yang mampu membuat lingkar rantai atom karbonnya. Sedangkan Hidrokarbon aromatic merupakan senyawa yang ini mempunyai struktur benzena, atau senyawa yang berhubungan dengan benzene (Riswiyanto S. 2006: 14).
Menurut (Fessenden, 1997), senyawa hidrokarbon dapat terbagi berdasarkan jenis ikatan yang dikandungnya. Baik itu senyawa alifatik dan alisiklik.
Berdasarkan hal tersebut, senyawa hidrokarbon terbagi menjadi senyawa hidrokarbon jenuh dan senyawa hidrokarbon tak jenuh. Hidrokarbon dengan karbon-karbon yang mempunyai satu ikatan dinamakan hidrokarbon jenuh. Hidrokarbon dengan dua atau lebih atom karbon yang mempunyai ikatan rangkap dua atau tiga dinamakan hidrokarbon tidak jenuh (Fessenden, 1997).
Dengan demikian, senyawa hidrokarbon jenuh telah terisi seluruh electron valensinya. . Akibatnya, senyawa ini cukup stabil dan disebut juga parafin yang berarti kurang reaktif (Wilbraham, 1992). Contohnya pada kelompok alkana dan sikloalkana.
Sedangkan hidrokarbon tak jenuh memiliki karateristik yang berkebalikan dengan hidrokarbon jenuh. Karena masih dapat berikatan dengan senyawa lain, sehingga kurang stabil dan lebih mudah untuk bereaksi. Namun tetap tidak bereaksi dengan pelarut polar seperti air, karena umumnya senyawa organic bersifat non polar.
Dari semua senyawa hidrokarbon yang telah dijelaskan, senyawa aromatic memiliki keunikan tersendiri. Umumnya senyawa aromatic dikenal dengan senyawa yang memiliki aroma khas. Senyawa aromatic adalah senyawa yang memiliki dua ciri utama yaitu dengan ketidak jenuhannya tinggi dan tidak mudah bereaksi dengan pereaksi-peraksi yang dapat menyerang ikatan PI (Parlan, 2005 : 225). Artinya senyawa aromatic tidak akan bereaksi dengan pereaksi yang menghancurkan kerapatan electron ikatan namun bereaksi pada pereaksi yang menyerang daerah lain.
Reaksi adisi adalah penambahan senyawa tertentu pada senyawa tak jenuh. Karena pada senyawa tak jenuh terdapat ikatan yang tidak stabil, maka mudah mengikat atom yang lain (Keenan, 1987). Hidrogenasi dan reaksi-reaksi hirdogen halida dan halogen dengan alkena dan alkuna adalah contoh dari reaksi adisi (Chang, 2005).
Reaksi substitusi khas untuk golongan alkana. Gugus fungsi menggantikan atom H pada reaksi rantai atau cincin (Keenan, 1987). Contohnya adalah reaksi sulfonasi, kopling, substitusi radikal, dan lainnya.
Eliminasi artinya penghilangan atau pelepasan. Reaksi eliminasi dapat dianggap kebalikan dari reaksi adisi. (Sumardjo,2009). Berdasarkan pernyataan tersebut, pada reaksi eliminasi akan terjadi peningkatan ikatan senyawa.
Reaksi pembakaran hidrokarbon adalah reaksi senyawa hidrokarbon dengan oksigen. Sehingga hasil yang akan didapatkan berupa uap air dan gas karbon dioksida.
Pada percobaan pertama, terjadi reaksi antara sikloheksana, toluene, dan minyak goreng dengan air. Hasilnya adalah ketiga larutan tersebut tidak dapat larut dalam air dan menimbulkan antar air dan ketiga larutan tersebut. Hal ini terjadi karena sifat senyawa organic yang tidak dapat larut dalam pelarut polar, namun larut dapat larut dalam pelarut non polar. Sehingga saat sikloheksana, toluene, dan minyak goreng dilarutkan dalam minyak tanah, ketiga larutan tersebut dapat larut di dalam minyak tanah. Karena minyak tanah merupakan pelarut organic.
Pada percobaan kedua, terdapat reaksi pembakaran kepada ketiga larutan yang sama dengan percobaan pertama. Hasilnya didapatkan bahwa toluene adalah larutan yang paling cepat menguap dan mengeluarkan bau thinner. Berdasarkan teori yang ada, senyawa aromatis seperti toluene seharusnya memiliki titik didih yang lebih besar sedikit dibandingkan sikloheksana. Karena kerapatan electron toluene lebih besar dari sikloheksana. Hal ini terjadi akibat waktu peletakan cairan tidak bersamaan saat dibakar. Sedangkan minyak goreng sangat lambat untuk menguap. Karena struktur minyak goreng sangat kompleks dan cenderung stabil. Senyawa alifatik akan lebih stabil dibanding senyawa siklik pada proses pembakaran. Selain itu, minyak termasuk senyawa tak jenuh. Sehingga proses pembakaran lebih lambat.
Pada proses reaksi ketiga larutan dengan asam sulfat pekat, hanya terjadi reaksi pada saat direaksikan dengan minyak goreng. Hal ini karena minyak bukan senyawa jenuh. Sehingga menjadi kurang stabil, dan asam sulfat pekat mampu memutus ikatan minyak dan menggantinya gugus milik asam sulfat. Namun tidak terjadi pada sikloheksana dan toluene. Karena sikloheksana cukup stabil dengan sifatnya sebagai senyawa jenuh, dan toluene dapat bereaksi bila tidak menyerang ikatan pi.  
Pada proses reaksi ketiga larutan dengan KMnO4, terjadi reaksi pada minyak goreng. Hal ini karena  KMnO4 hanya dapat bereaksi dengan senyawa tak jenuh, namun tidak berlangsung pada senyawa aromatis. Dimana KMnO4 mampu memutus ikatan rangkap pada senyawa.

IV.   Daftar Pustaka
Chang, Raymond. (2005). Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga

Fessenden, Ralph J, dan Fessenden, Joan S. (1997). Dasar-dasar Kimia Organik. Bina Aksara: Jakarta

Keenan, Donald dan Kleinfelter, Wook, Jesse H., (1987). Ilmu Kimia untuk Universitas. Terjemahan dari General College Chemistry oleh Aloysius Hadyana Pujatmaka. Jakarta : Erlangga

Parlan, wahyudi. (2005). Kimia Organik I. Malang : UM Press

Petrucci, Ralph H. (1987). Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Jilid 3. Jakarta : Erlangga

S, Riswayanto. (2006). Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

Sumardjo, D. (2009). Pengantar Kimia :  Buku Panduan Kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta. EGC : Jakarta

Syukri, S. (1999). Kimia Dasar 3. ITB. Bandung.

Wilbraham, A. C.(1992). Pengantar Kimia Organik dan Hayati. ITB : Bandung



Comments

Popular posts from this blog

Reaksi Kimia

Biologi - Pengenalan Mikroskop

Kalori