Kesetimbangan Kimia
KESETIMBANGAN
KIMIA
Gabrielle
Zhe (2101631033)
I. Tujuan :
1.
Mengetahui
pengaruh perubahan konsentrasi terhadap kesetimbangan reaksi.
2.
Membuktikan
adanya reaksi dapat balik / reversible.
3.
Mengetahui
pengaruh perubahan suhu terhadap kesetimbangan reaksi.
II.
Langkah
Kerja
2.1
Alat
·
Gelas
kimia
·
Gelas
ukur
·
Pipet
tetes
·
Pipet
ukur
·
Hot
plate
·
Spatula
·
Gegep
·
Neraca
analitik
·
Cawan
penguap
·
Vortex
·
Tabung
reaksi + rak
·
Label
2.2
Bahan
·
Aquadest
·
KSCN
1 M
·
KSCN
3 M
·
Kristal
Na2HPO4
·
FeCl3
1 M
·
FeCl3
3 M
·
CuSO4.5
H2O
III.
Hasil
dan Pembahasan
3.1 Hasil
Tabel 1
Pengaruh perubahan konsentrasi terhadap kesetimbangan reaksi
|
No
|
Larutan
|
Pengamatan
|
Foto
|
|
1
|
Larutan
KSCN & FeCl3
|
Tidak
mengalami perubahan warna
|
![]() |
|
2
|
Larutan
KSCN & FeCl3 + KSCN 3 M
|
Warna
menjadi lebih merah dari sebelumnya
|
![]() |
|
3
|
Larutan
KSCN & FeCl3 + FeCl3 3 M
|
Warna
menjadi lebih merah dari sebelumnya
|
![]() |
|
4
|
Larutan
KSCN & FeCl3 + Na2HPO4
|
Warna
menjadi berubah putih keruh dari merah,sudah tidak ada Kristal yang tersisa
|
![]() |
|
5
|
Larutan
KSCN & FeCl3 + Aquadest
|
Warna
memudar namun lebih keruh
|
![]() |
Tabel 2
Pengaruh perubahan suhu terhadap kesetimbangan reaksi
|
Keadaan
awal
|
Keadaan
setelah dipanaskan
|
Keadaan
setelah didinginkan + H2O
|
![]() |
![]() |
![]() |
3.2 Pembahasan
Dalam melakukan reaksi kimia, tentunya akan
ada fase dimana suatu reaksi dikatakan seimbang / mencapai kesetimbangan. Kesetimbangan
dibagi menjadi homogen dan heterogen. Homogen bila kesetimbangan terdapat pada
satu fase (gas, cairan tunggal, fase padat tunggal). Heterogen bila
kesetimbangan terdapat dalam lebih dari satu fase (gas, padat, gas cairan,
padat cairan atau padat-padat) (Sukardjo, 1997:220). Oleh karena itu reaksi
kesetimbangan ada 2 jenis, reaksi homogen dan heterogen. Sedangkan
kesetimbangan heterogen merupakan suatu kesetimbangan yang anggota sistemnya
mempunyai lebih dari satu fase, sehingga sistem yang terbentuk pun mempunyai lebih
dari satu macam fase (Keenan, 1991).
Pergerakan
dari partikel untuk mencapai kesetimbangan biasanya tidak dapat kita lihat
karena ukurannya yang relative kecil. Kesetimbangan kimia dinamis tercapai pada
saat dua reaksi kimia yang berlawanan terjadi pada tempat dan waktu yang sama
dengan laju reaksi yang sama (Raymond Chang, 2005). Ketika sistem mencapai kesetimbangan,
jumlah masing-masing spesi kimia menjadi konstan (tidak perlu sama) (Raymond
Chang, 2007). Kesetimbangan kimia tercapai bila kecepatan reaksi tekanan
(molekul produk) telah sama dengan kecepatan reaksi ke kiri (pembentukan
molekul reaktan) dan konsentrasi reaktan maupun konsentrasi produk tidak
berubah-rubah lagi (konstan). Ciri suatu sistem dalam keadaan setimbang adalah
dengan adanya nilai yang tidak berubah dengan berubahnya waktu (Suminar, 1992).
Jadi, kesetimbangan kimia merupakan proses yang dinamis (Purwoko, 2006 : 169).
Oleh karena itu reaksi kesetimbangan merupakan reaksi yang reversible / bolak –
balik.
Kondisi kesetimbangan kimia dapat
diturunkan dari hukum aksi massa. Hukum ini mula-mula dinyatakan oleh Guldberg
dan Waage pada tahun 1867
dalam
bentuk berikut: “kecepatan suatu reaksi kimia pada suhu konstan adalah
sebanding dengan hasil kali konsentrasi zat- zat yang bereaksi”.
Kecepatan /
laju reaksi reaktan sebanding dengan konsentrasi :
Kecepatan /
laju reaksi reaktan sebanding dengan konsentrasi (dari arah sebaliknya) :
Karena
ketika mencapai kesetimbangan kecepatan reaksi antara produk dengan reaktan
maka :

Nilai K
adalah tetapan kesetimbangan dari reaksi (Svehla, 1985)
Seperti reaksi / fenomena yang ada di alam
ini yang memiliki prinsip / hukum tertentu untuk menjelaskannya, dalam reaksi
kesetimbangan, berlaku asas Le Cathelier. Secara umum asas Le Cathelier lebih
dikenal menjelaskan bahwa reaksi akan selalu berusaha untuk menyeimbangkan
dirinya bila terjadi gangguan / kesetimbangan. Itulah mengapa kita sering
mendengar reaksi akan bergeser kea rah kanan / kiri bila diberikan sesuatu.
Asas Le Chatelier: ”Jika diberi, dia memberi. Jika diambil, dia mengambil” (Dewi,
2006). Beberapa hal yang menyebabkan terjadinya pergeseran reaksi antara lain
perubahan konsentrasi, perubahan temperatur, perubahan tekanan atau volume, dan
adanya katalisator (Kuncoro, 2008).
Konsentrasi akan bergeser dari yang
berkonsentrasi tinggi ke rendah, tekanan akan bergeser kearah mol yang sedikit
ketika ditingkatkan, temperature akan bergeser ke arah produk apabila reaksi
adalah reaksi endotermis. Sedangkan katalis hanya akan mempercepat
menyeimbangkan reaksi.
Pada
percobaan pertama, kita membuat larutan sebagai control :
Pada reaksi
yang telah dilakukan, reaksi dari kalium tiosianat yang berwarna merah dengan
besi (III) klorida yang berwarna kuning menghasilkan menjadi warna merah
kecoklatan muda.
Pada percobaan kedua, terjadi penambahan
zat KSCN dengan konsentrasi 3 M.
Hal ini
membuat konsentrasi pada zat reaktan semakin tinggi. Sehingga untuk mencapai
kesetimbangan, reaksi bergeser kearah produk. Maka warna larutan akhir menjadi
merah yang lebih gelap dibandingkan kontrol.
Pada percobaan ketiga, terjadi penambahan zat
FeCl3 dengan konsentrasi 3 M.
Hal ini
membuat konsentrasi pada zat reaktan semakin tinggi. Sehingga untuk mencapai
kesetimbangan, reaksi bergeser kearah produk. Maka warna larutan akhir menjadi
merah yang lebih gelap dibandingkan kontrol. Namun tidak segelap warna dengan
percobaan kedua. Hal ini karena warna larutan FeCl3 yang berwarna
lebih terang dari KSCN.
Pada percobaan keempat, terjadi penambahan
zat Na2HPO4. Sehingga larutan menjadi berwarna keruh dan
ada sedikit endapan. Reaksinya :
Hal ini
terjadi karena sifat dari ion HPO4- yang dikenal dapat
mengikat ion Fe3+. Karena diserap oleh ion HPO4-,
maka kesetimbangan bergeser kearah reaktan dan terus terserap. Sehingga Fe3+
ke reaktan dan menjadi pudar.
Pada percobaan kelima terjadi adanya
pergesaran untuk mencapai kesetimbangan :
Karena
adanya penambahan aquadest, maka konsentrasi pada reaktan lebih rendah dari
produk. Maka partikel mengalami pergeseran kea rah reaktan. Sehingga warna
larutan pada produk menjadi lebih memudar.
Pada percobaan berikutnya, CuSO4.5
H2O adalah senyawa hidrat. Senyawa hidrat adalah zat padat yang
mengandung molekul air di dalamnya. Sedangkan zat padat yang tidak mengandung
molekul air di dalamnya adalah senyawa anhidrat. Dengan proses pemanasan,
senyawa hidrat dapat menjadi senyawa anhidrat. Biasanya cara mengetahui bahwa
air dalam senyawa hidrat sudah menghilang adalah :
·
Memberikan
pemanasan pada senyawa hidrat hingga terjadi perubahan wujud yaitu bubuk.
·
Terjadi
perubahan warna
·
Gelas
tempat pemanasan akan kering dari molekul air.
(Wilkinson cotton,
1989 : 205 – 206)
Hal ini juga terjadi pada percobaan yang
dilakukan dimana wujud awal CuSO4.5 H2O adalah zat padat
berwarna biru. Lalu saat dipanaskan, wujudnya menjadi serbuk berwarna putih
kebiruan. Pada saat diberikan air, zat menjadi lebih berbentuk, dan warna
kembali biru.
IV.
Daftar
Pustaka
Achmadi,
Suminar. 1992. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Edisi Keempat Jilid 2.
Jakarta: Erlangga.
Chang,
Raymond. 2005. Kimia Dasar: Konsep-konsep Inti Jilid I. Jakarta: Erlangga.
Keenan,
C.W. Dkk. 1991. Ilmu Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.
Kuncoro,
Priyo. 2008. Panduan Praktis Siap Uji Menghadapi UN dan SPMB. Jakarta: Erlangga
Nuraini,
Dewi. 2006. Kimia untuk SMA Semester 1 Kelas XI. Surakarta: CV Grahadi
Purwoko,
Agus Abhr.2006. Kimia DasarJilid 1.Mataram: Mataram University Press
Sukardjo.
1997. Kimia Fisika. Rineka Cipta. Yogyakarta.
Svehla, G.
1985. Vogel : Buku Teks Analisis Anorganik Kulitatif Makro dan Semimakro .
Jakarta : PT. Kalman Media Pusaka
Wilkinson,
Cotton. 1989. Dasar Kimia Anorganik.
Jakarta : UI – press 1989








Comments
Post a Comment