Laju Reaksi
LAJU
REAKSI
Gabrielle
Zhe (2101631033)
I. Tujuan :
1.
Mengetahui
faktor – faktor yang mempengaruhi laju reaksi
2.
Mengetahui
pengaruh konsentrasi dan suhu terhadap laju reaksi
3.
Menentukan
persamaan laju reaksi kimia
II. Metodologi
2.1
Alat
·
Gegep
·
Gelas
kimia
·
Pipet
ukur
·
Thermometer
·
Hotplate
·
Stopwatch
·
Label
2.2
Bahan
·
Larutan
Natrium tiosulfato (0.1 M)
·
Larutan
Natrium tiosulfato (0.2 M)
·
Larutan
asam klorida (1 M)
·
Larutan
asam klorida (2 M)
·
Kertas
putih bertanda “x”
2.3
Langkah
Kerja
a.
Siapkan
bahan dan alat yang dibutuhkan dalam praktikum stoikhiometri.
b.
Tuangkan
2 mL natrium tiosulfat ke dalam gelas kimia
1.
Gelas
kimia 1 dituangkan 2 mL natrium tiosulfat 0.1 M
2.
Gelas
kimia 2 dituangkan 2 mL natrium tiosulfat 0.1 M
3.
Gelas
kimia 3 dituangkan 2 mL natrium tiosulfat 0.2 M
4.
Gelas
kimia 4 dituangkan 2 mL natrium tiosulfat 0.1 M lalu panaskan hingga 400C
5.
Gelas
kimia 5 dituangkan 2 mL natrium tiosulfat 0.1 M lalu panaskan hingga 400C
6.
Gelas
kimia 6 dituangkan 2 mL natrium tiosulfat 0.2 M lalu panaskan hingga 400C
c.
Lalu
diberikan larutan asam klorida kepada setiap larutan
1.
Tabung
reaksi 1 dituangkan 3 mL asam klorida 1 M
2.
Tabung
reaksi 2 dituangkan 3 mL asam klorida 2 M
3.
Tabung
reaksi 3 dituangkan 3 mL asam klorida 2 M
4.
Tabung
reaksi 4 dituangkan 3 mL asam klorida 1 M
5.
Tabung
reaksi 5 dituangkan 3 mL asam klorida 2 M
6.
Tabung
reaksi 6 dituangkan 3 mL asam klorida 2 M
d.
Lalu
perhatikan tanda “x” di bagian bawah gelas kimia hingga tidak terlihat dan
catat waktu yang dibutuhkan.
3.1 Hasil
Tabel 1
Laju reaksi larutan tanpa pemanasan
|
No
|
Larutan
|
Waktu
|
|
1
|
Na2S2O3
(2 mL) 0.1 M + HCl (3 mL) 1 M
|
11 Menit
44 detik
|
|
2
|
Na2S2O3
(2 mL) 0.1 M + HCl (3 mL) 2 M
|
2 menit 53
detik
|
|
3
|
Na2S2O3
(2 mL) 0.2 M + HCl (3 mL) 2 M
|
50 detik
|
Tabel 2
Laju reaksi larutan dengan pemanasan
|
No
|
Larutan
|
Waktu
|
|
1
|
Na2S2O3
(2 mL) 0.1 M + 400 C + HCl (3 mL) 1 M
|
1 Menit 31
detik
|
|
2
|
Na2S2O3
(2 mL) 0.1 M + 400 C + HCl (3 mL) 2 M
|
6 menit 34
detik
|
|
3
|
Na2S2O3
(2 mL) 0.2 M + 400 C + HCl (3 mL) 2 M
|
1 menit 8
detik
|
Reaksi kimia
yang terjadi :
Na2S2O3(Aq)
+ 2 HCl(Aq) à 2 NaCl(Aq) + H2O(l)
+ SO2(g) + S(s)
3.2 Pembahasan
Cabang ilmu kimia yang khusus mempelajari tentang laju reaksi
disebut kinetika kimia. Tujuan utama kinetika kimia ialah menjelaskan bagaimana
laju bergantung pada konsentrasi reaktan dan mengetahui mekanisme suatu reaksi
berdasarkan pengetahuan tentang laju reaksi yang diperoleh dari eksperimen
(Oxtoby:2001). Reaksi, laju reaksi yang mendeskripsikan seberapa cepat
konsentrasi reaktanatau produk berubah dengan waktu (Petrucci, 2011 :197). Tentunya reaksi yang cepat dapat
mengoptimalkan waktu dalam proses produksi. Laju reaksi secara kuantitatif
pertama kali diamati oleh L. Wilhemly pada tahun 1850 dengan mengamati reaksi
hidrolisis sukrosa. (Winarto, 2013).
Laju reaksi kimia terlihat dari perubahan konsentrasi molekul
reaktan atau konsentrasi molekul produk terhadap waktu. Alasannya karena
biasanya konsentrasi reaktan akan menurun saat reaksi, sehingga pengukuran
dengan reaktan di awal membuat perhitungan lebih akurat (Chang, 2005: 33). Laju reaksi tidak
tetap melainkan berubah terus-menerus seiring dengan perubahan konsentrasi
(Chang:2005). Untuk lebih
mudahnya, dapat memperhatikan rumus laju reaksi :
Laju = k f (C1, C2, …., Ci)
Di mana k adalah konstanta laju, juga disebut
konstanta laju spesifik atau konstanta kecepaan, C1, C2,
… adalah konsentrasi dari reaktan-reakan dan produk-produk (Dogra:1990).
Rumus ini mengikuti hukum
laju reaksi yang menyatakan hubungan antara konstanta laju dengan konsentrasi
reaktan dan orde reaksinya. Biasanya kita lebih familiar dengan rumus :
Dimana k adalah konstanta laju, (a) dan (b)
adalah konsentrasi dari reaktan, sedangkan x dan y adalah orde reaksi dari zat
tersebut. Mengenai orde reaksi, orde reaksi bukan di dapat dari koefisien dari
zat tersebut, melainkan didapat dari hasil percobaan. Biasanya orde reaksi
didapat melalui perbandingan antar data.
Dalam laju reaksi, terdapat beberapa faktor
yang mempengaruhinya. Faktor tersebut ialah konsentrasi reaktan, suhu, luas permukaan,
tekanan, dan katalis. Konsentrasi zat yang semakin tinggi akan menyebabkan laju
reaksi yang semakin cepat. Hal ini karena molekul – molekul di dalam zat
melakukan tabrakan. Jika semakin pekat, maka partikel zat terlarutnya tentu
lebih banyak dari air. Sehingga kemungkinan tabrakan akan lebih besar, sehingga
kemungkinan bereaksi akan lebih besar dan lajunya tentu semakin cepat. Akan tetapi harus diingat bahwa tidak selalu
pertambahan konsentrasi pereaksi meningkatkan laju reaksi, karena laju reaksi
juga dipengaruhi oleh faktor lain yang akan diterangkan pada pasal (Syukri,
1999).
Suhu yang semakin tinggi
membuat laju reaksi semakin cepat. Hal ini karena pada suhu tinggi, molekul
akan lebihcepat bergerak, sehingga kemungkinan bertemu dan bertabrakan semakin
besar, sehingga kemungkinan terjadinya reaksi akan jauh lebih cepat.
Luas permukaan juga berpengaruh
terhadap laju reaksi. Semakin besar daya serang luas permukaan, maka semakin
cepat laju reaksinya. Hal ini karena semakin besar daya serangnya, maka semakin
cepat juga antar reaktan untuk saling bereaksi.
Pada tekanan, hanya berpengaruh
pada reaktan yang berwujud gas. Pada saat tekanan gas dinaikkan / semakin
mampat, maka laju reaksi akan semakin cepat. Hal ini karena tekanan yang besar
membuat volume semakin kecil. Sehingga pergerakan partikel gas akan terbatas
dan kemungkinan untuk saling bertumbukan sangat besar. Sehingga laju reaksi
akan semakin cepat.
Katalis merupakan zat yang
dapat mempercepat suatu reaksi namun tidak menghasilkan hasil baru / bereaksi
dengan zat yang ada. Katalis mempercepat reaksi dengan menyediakan serangkaian
tahapan elementer dengan kinetika yang lebih baik dibandingkan jika tanpa
katalis (Chang, 2005: 52). Biasanya katalis mempercepat laju reaksi dengan
menurunkan energi aktivasi / ambang batas energi yang harus dicapai agar suatu
reaksi dapat terjadi (Tim dosen, 2013: 135).
Dari hasil percobaan,
didapatkan beberapa data. Pada saat reaktan tidak dinaikkan suhunya, umumnya
laju reaksinya lebih lambat. Hal ini karena ketikan suhunya dinaikkan, maka
kecepatan mereka saat bertumbukan dan bereaksi lebih cepat. Hal ini terbukti
dari hasil percobaan yang telah dilakukan. Namun ada satu data yang berbeda
dari teori, yaitu saat Na2S2O3
(2 mL) 0.2 M tidak dipanaskan dan ditambahkan HCl (3 mL) 2 M, waktu yang
dibutuhkan adalah 50 detik. Sedangkan saat Na2S2O3
(2 mL) 0.2 M dipanaskan hingga 400 C dan ditambahkan HCl (3 mL) 2 M,
waktu yang dibutuhkan adalah 1 menit 8 detik. Hal ini terjadi kemungkinan
karena adanya kesalahan dalam menghitung waktu dan kurang ketelitian saat
menuangkan larutan dari pipet ukur.
Pada
percobaan ini, kita mengetahui bahwa konsentrasi dari suatu reaktan berpengaruh
bagi kecepatan reaksi. Saat konsentrasi dari natrium tiosulfat dan asam klorida
rendah, waktu yang dibutuhkan oleh keduanya untuk bereaksi / menghilangkan
tanda x lebih kama dibandingkan dengan yang lainnya. Namun pada natrium
tiosulfat yang dipanaskan, waktu yang dibutuhkan sedikit lebih cepat
dibandingkan yang tidak dipanaskan. Hal ini karena kemampuan untuk bertumbukan
lebih rendah saat konsentrasi rendah. Karena lebih banyak molekul air
dibandingkan partikel zat terlarutnya.
Pada
reaksi kedua Na2S2O3 (2 mL) 0.1 M + HCl (3 mL)
2 M, waktu yang dibutuhkan lebih cepat daripada yang sebelumnya. Hal ini karena
konsentrasi HCl yang dinaikkan dapat membuat peluang untuk bereaksi /
bertumbukan lebih cepat. Namun Na2S2O3 (2 mL)
0.1 M + 400C + HCl (3 mL) 2 M waktu yang dibutuhkan sangat lama. Hal
ini terjadi akibat kesalahan dalam melihat waktu, kesalahan dalam sinkronisasi
waktu dan penuangan, dan kurang teliti saat mengukur larutan.
Pada
reaksi ketiga, waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi sangat cepat. Hal ini
karena konsentrasi yang tinggi mampu membuat kemungkinan bertumbukan antar
partikel lebih cepat.
IV.
Daftar
Pustaka
Chang, Raymond.2005.Kimia
Dasar Konsep-Konsep Inti edisi ketiga jilid 2.Jakarta: Erlangga
Oxtoby, dkk.2001.Prinsip-prinsip
Kimia Modern edisi keempat jilid 1.Jakarta: Erlangga
Dogra, S.K dan S.Dogra.1990.Kimia Fisik dan soal-soal.Jakarta: Penerbit
Universitas Indonesia
Petrucci.2011.Kimia Dasar
Prinsip-Prinsip & Aplikasi Modern Edisi
Kesembilan Jilid 2.Jakarta: Erlangga
S,Syukri.1999.Kimia Dasar 2.Bandung:Intitute Teknologi
Bandung
Tim
Dosen Kimia UIN Alauddin Makassar.2013.Kimia
Dasar I.Makasar: Jurusan Kimia Alauddin University Express
Comments
Post a Comment