Larutan Asam Basa
LARUTAN
ASAM BASA
Gabrielle
Zhe (2101631033)
I. Tujuan :
1.
Mengetahui
pengaruh perubahan konsentrasi terhadap kesetimbangan reaksi.
2.
Membuktikan
adanya reaksi dapat balik / reversible.
3.
Mengetahui
pengaruh perubahan suhu terhadap kesetimbangan reaksi.
II.
Langkah
Kerja
2.1
Alat
·
Erlenmeyer
·
Buret
·
Pipet
tetes
·
Pipet
ukur
·
statif
·
Plat
tetes
·
Tabung
reaksi
·
Rak
tabung reaksi
·
Kertas
lakmus merah
·
Kertas
lakmus biru
·
Kertas
universal
·
Label
2.2
Bahan
·
HCl
0.1 M
·
Boraks
0.05 M
·
Indikator
metil orange
·
Asam
oksalat 0.05 M
·
Indikator
Phenophtalein
·
NaOH
0.1 M
·
CH3COOH
0.1 N
·
FeCl3
1 M
·
ZnCl2
1 M
·
NaCl
1 M
·
Na2SO4
1 M
·
H2SO4
1M
III. Hasil dan Pembahasan
3.1 Hasil
Tabel 1
Standarisasi larutan HCl dengan boraks
|
No
|
Nama Praktikan
|
Volume titrasi
|
Molaritas
|
Rata – rata
|
|
1
|
Anastasia Stella
|
4.3 mL
|
0.232 M
|
0.216 M
|
|
2
|
Gabrielle Zhe
|
4.8 mL
|
0.208 M
|
|
|
3
|
Kevin Lionardi
|
4.8 mL
|
0.208 M
|
Gabrielle
Zhe :
Tabel 2
Standarisasi larutan NaOH dengan asam oksalat
|
No
|
Nama Praktikan
|
Volume titrasi
|
Molaritas
|
Rata – rata
|
|
1
|
Anastasia Stella
|
10.4 mL
|
0.096 M
|
0.088 M
|
|
2
|
Gabrielle Zhe
|
11.8 mL
|
0.085 M
|
|
|
3
|
Kevin Lionardi
|
12 mL
|
0.083 M
|
Gabrielle Zhe :
Tabel 3
Larutan asam basa
|
No
|
Bahan
|
Warna
|
|
|
Awal
|
Setelah + PP
|
||
|
1
|
HCl
|
Bening
|
Bening
|
|
2
|
CH3COOH
|
Bening
|
Bening keruh sedikit
|
|
3
|
NaOH
|
Bening
|
Ungu
|
|
4
|
HCl + NaOH
|
Bening
|
Ungu semakin tua
|
|
5
|
CH3COOH + NaOH
|
Bening
|
Ungu semakin tua
|
Tabel 4 Uji asam
dan basa dengan lakmus
|
No
|
Bahan
|
Warna
|
Universal
|
|
|
Merah
|
Biru
|
|||
|
1
|
FeCl3
|
Merah
|
Merah
|
pH sekitar 2
|
|
2
|
ZnCl2
|
Merah
|
Merah
|
pH 5 – 6
|
|
3
|
NaCl
|
Merah
|
Biru
|
pH 5
|
|
4
|
Na2SO4
|
Biru
|
Biru
|
pH 5
|
|
5
|
H2SO4
|
Merah
|
Merah
|
pH sekitar 1
|
|
6
|
NaOH
|
Biru
|
Biru
|
pH 13 – 14
|
3.2 Pembahasan
Larutan
standar merupakan larutan yang memiliki peran penting untuk mengetahui
konsentrasi suatu larutan tertentu. Larutan baku/ larutan standar adalah
larutan yang konsentrasinya sudah diketahui. Larutan baku biasanya berfungsi
sebagai titran sehingga ditempatkan buret, yang sekaligus berfungsi sebagai
alat ukur volume larutan baku. Larutan yang akan ditentukan konsentrasinya atau
kadarnya, diukur volumenya dengan menggunakan pipet volumetri dan ditempatkan
di erlenmeyer. (Michael J. Bassett 1994).
Larutan
standar umumnya terdapat 2 jenis yaitu larutan standar primer dan larutan
standar sekunder. Larutan yang dibuat dari bahan baku primer disebut larutan
bahan baku primer ( Haryadi, 1996 ). Yang dimaksud bahan baku primer adalah
bahan baku yang umumnya berupa padatan atau suatu larutan yang tingkat
kemurniannya tinggi. Oleh karena itu, terdapat syarat untuk menjadi larutan
baku / standar primer. Menurut (Michael J. Bassett 1994), syarat larutan
standar primer :
·
Zat
harus mudah diperoleh, dimurnikan, dikeringkan (jika mungkin pada suhu 110-120
derajat celcius) dan disimpan dalam keadaan murni. (Syarat ini biasanya tak
dapat dipenuhi oleh zat- zat terhidrasi karena sukar untuk menghilangkan
air-permukaan dengan lengkap tanpa menimbulkan pernguraian parsial.)
·
Zat
harus tidak berubah berat dalam penimbangan di udara; kondisi ini menunjukkan
bahwa zat tak boleh higroskopik, tak pula dioksidasi oleh udara atau
dipengaruhi karbondioksida.
·
Zat
tersebut dapat diuji kadar pengotornya dengan uji- uji kualitatif dan kepekaan
tertentu.
·
Zat
tersebut sedapat mungkin mempunyai massa relatif dan massa ekuivalen yang
besar.
·
Zat
tersebut harus mudah larut dalam pelarut yang dipilih.
·
Reaksi
yang berlangsung dengan pereaksi harus bersifat stoikiometrik dan langsung
Berbeda
dengan larutan standar primer, larutan standar sekunder merupakan larutan yang
belum diketahui konsentrasinya. Larutan standar sekunder adalah larutan standar
yang bila akan digunakan untuk standarisasi harus distandarisasi lebih dahulu
dengan larutan standar primer (Wiryawan, 2007).
Oleh
karena itu, dalam proses standarisasi, terdapat isitilah titrasi. Umumnya
titrasi identic dengan alkalimetri dan asidimetri / titrasi penetralan.
Biasanya langkah ini dilakukan untuk menentukan banyaknya zat yang terlarut
dalam suatu volume. Titrasi atau disebut juga volumetri merupakan metode
analisis kimia yang cepat, akurat dan banyak digunakan untuk menentukan kadar
suatu unsur atau senyawa dalam larutan (Wiryawan, 2007). Titrasi mempunyai
rumus
Asidimetri
adalah pengukuran konsentrasi asam dengan menggunakan larutan baku
basa,sedangkan alkalimeteri adalah pengukuran konsentrasi basa dengan
menggunakan larutan baku asam (Sukarti, 2008). Dari pernyataan diatas, dapat
diketahui bahwa pada asidimetri larutan yang akan distandarisasi adalah larutan
yang asam, sehingga larutan yang akan mencapai netralisasi adalah larutan basa
yang telah diberi indikator dan diketahui konsentrasinya. Sedangkan pada
alkalimetri larutan yang akan distandarisasi adalah larutan yang basa, sehingga
larutan yang akan mencapai netralisasi adalah larutan asam yang telah diberi
indikator dan diketahui konsentrasinya.
Dalam
hal ini, perlu adanya pengertian mengenai asam dan basa. Teori asam basa yang
dikenal ada 3 yaitu teori Arhennius, Bronsted Lowry, dan Basa lewis. Menurut
Arhenius asam adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air akan menghasilkan
ion H+. Basa adalah senyawa yang jika dilarutkan dalam air menghasilkan ion
OH-. Menurut Bronsted-Lowry asam adalah suatu zat yang dapat memberi proton
(donor H+). Basa dalah suatu senyawa yang dapat menerima proton (akseptor ion
H+). Menurut Lewis asam merupakan partikel (ion atau molekul) yang dapat
bertindak sebagai penerima (akseptor) pasangan elektron. Sedangkan basa
merupakan partikel (ion atau molekul) yang dapat bertindak sebagai pemberi
(donor) psangan elektron (Nana, 2006).
Dalam
melakukan titrasi, perlu adanya indikator. Tentunya indikator yang digunakan
harus sesuai dengan derajat keasamaan larutan yang akan dicapai. Meskipun
demikian, terdapat beberapa alat yang dapat digunakan sebagai indikator pH. Syarat
dapat tidaknya suatu zat dijadikan indicator asam basa adalah terjadinya
perubahan warna apabila suatu indikator diteteskan pada larutan asam dan
larutan basa. Perubahan
warna harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu - raguan tentang kapan
titrasi harus dihentikan. Untuk memenuhinya maka trayek indikator harus
memotong bagian yang sangat curam dari kurva titrasi (Sudarmo, 2006). Untuk
itu, banyak indikator yang dapat digunakan baik secara alami maupun kimiawi.
Contohnya yang alami adalah kunyit, buah bit, kelopak kembang sepatu, kubis,
dan lainnya. Secara kimiawi, banyak indikator yang dapat digunakan dengan
indokator tertentu.
|
No |
Nama
Indikator
|
Perubahan
Warna
|
Range
PH
|
|
|
Dari
|
Ke
|
|||
|
1
|
Timol
Biru
|
Merah
|
Kuning
|
1,2 –
2,8
|
|
2
|
2,6
Dinitrofenol
|
Tak
berwarna
|
Kuning
|
2,0 –
4,0
|
|
3
|
Metil
kuning
|
Merah
|
Kuning
|
2,9 –
4,0
|
|
4
|
Bromofenol
biru
|
Kuning
|
Biru
|
3,0 –
4,6
|
|
5
|
Metil
jingga
|
Merah
|
Kuning
|
3,1 –
4,4
|
|
6
|
Bromkresol
hijau
|
Kuning
|
Biru
|
3,8 –
5,4
|
|
7
|
Metil
merah
|
Merah
|
Kuning
|
4,2 –
6,2
|
|
8
|
Lakmus
|
Merah
|
Biru
|
5,0 –
8,0
|
|
9
|
Metil
ungu
|
Ungu
|
Hijau
|
4,8 –
5,4
|
|
10
|
p-Nitrofenol
|
Tak
berwarna
|
Kuning
|
5,6 –
7,6
|
|
11
|
Bromtimol
biru
|
Kuning
|
Biru
|
6,0 –
7,6
|
|
12
|
Fenol
merah
|
Kuning
|
Biru
|
6,8 –
8,4
|
|
13
|
Fenolftalein
|
Tak
berwarna
|
Merah
|
8,0 –
9,6
|
|
14
|
Timolftalein
|
Tak
berwarna
|
Biru
|
9,3 –
10,6
|
|
15
|
Alizarien
kuning R
|
Kuning
|
Violet
|
10,1
– 12,0
|
|
16
|
1,3,5-Trinitrobenzena
|
Tak
berwarna
|
Orange
|
12,0
– 14,0
|
Meskipun terdapat banyak indikator,
namun sekarang dalam mengukur pH dapat menggunakan pH meter ataupun kertas pH
universal yang lebih mudah digunakan dan lebih teliti.
Pada
percobaan pertama, dilakukan standarisasi pada larutan HCl dengan ditambahkan
pada boraks yang ditambahkan dengan indikator metil orange. Reaksinya adalah :
HCl(Aq)
+ Na2B4O7(Aq) à H2B4O7(Aq)
+ 2 NaCl(Aq)
Menggunakan metil orange dalam titrasi
ini karena reaksi netral ini adalah reaksi basa lemah (boraks) dengan asam HCl
yang merupakan asam kuat. Sehingga reaksi netralisasi ini akan cenderung menuju
asam. Sehingga menggunakan indikator metil orange mampu melihat hasil larutan
netral lebih detail / teliti. Hasil dari titrasi netralisasi asidimetri
menunjukan bahwa larutan HCl yang digunakan memiliki konsentrasi 0.216
berdasarkan percobaan yang telah dilakukan. Hasil yang didapat tidak begitu
baik akibat ketidaktelitian dalam melihat warna berada dalam keadaan trayek.
Warna awalnya lebih kuning tua, pada saat telah mencapai pada trayek pH,
warnanya menjadi cenderung jingga kekuningan muda. Dalam melihat warna
cenderung sulit akibat sulit membedakan warna kuning dengan jingga kekuningan.
Pada
percobaan kedua, dilakukan standarisasi terhadap larutan NaOH. Pada proses
titrasi, digunakan indikator phenolphthalein. Reaksinya adalah :
H2C2O4
(Aq) + 2 NaOH(Aq) à Na2C2O4(Aq)
+ 2 H2O(l)
Hal ini karena yang menjadi larutan
primer adalah larutan asam lemah. Apabila ditambahkan larutan NaOH yang
merupakan basa kuat, menyebabkan larutan garam yang pH nya cenderung basa.
Sehingga penggunaan PP adalah pilihan yang tepat meskipun warnanya tidak
bertahan lama. Warna awal saat diteteskan pada larutan asam oksalat adalah
bening. Setelah mengalami netralisasi, warna larutan menjadi pink / ungu muda.
Kesalahan pada percobaan ini adalah kurangnya ketelitian dalam melihat volume
dan perubahan warna.
Pada
percobaan ketiga, melalui indikator phenolphthalein, dapat dikenali larutan
asam dan basa. Pada larutan HCl, pH HCl umumnya berada pada kisaran di bawah 7
ketika diteteskan indikator PP yang berada di kisaran 8 – 10 akan menghasilkan
warna bening. Sedangkan pada asam asetat, menjadi warna bening keruh. Fenolftalein
merupakan senyawa yang memiliki gugus fenol, sehingga bersifat sebagai asam
lemah (Sukarta, 1999). Sehingga hasil percobaan ini kurang tepat. Hal ini
terjadi kesalahan akibat kurang bersihnya alat yang digunakan. Pada NaOH,
larutan menjadi ungu saat diteteskan PP. Hal ini menunjukan bahwa larutan
memiliki pH diatas 10. Pada saat dicampurkan, warna HCl + NaOH menjadi ungu. Reaksinya
adalah :
HCl(Aq)
+ NaOH(Aq) à
NaCl(Aq) + H2O(l)
Artinya larutan ini masih berada
diatas 10. Seharusnya pH hasil dari campuran ini menghasilkan pH dibawah 10
karena NaCl merupakan garam hasil asam kuat dan basa kuat. Hal ini akibat
adanya kontak salah satu zat dengan air / kurang ketelitian saat mengukur
volume salah satu zat. Pada NaOH + asam asetat, warna menjadi ungu tua. Reaksinya
adalah :
CH3COOH(Aq) +
NaOH(Aq) àCH3COONa(Aq)
+ H2O(l)
Hal ini membuktikan bahwa NaOH adalah
basa kuat sehingga pH yang dihasilkan masih cukup tinggi.
Pada
percobaan terakhir, menentukan suatu larutan berdasarkan indikator pH
universal, lakmus merah, dan lakmus biru. FeCl3 menghasilkan pH asam
terbukti dari kertas lakmus dan indikator. Hal ini karena FeCl3
berasal dari basa lemah (Besi (III) hidroksida) dan asam kuat (asam klorida).
ZnCl2 juga menghasilkan pH asam. Hal ini karena ia berasal dari basa
lemah dan asam kuat. NaCl menghasilkan pH basa. Hal ini karena NaCl berasal
dari basa kuat dan asam kuat. Na2SO4 menghasilkan pH
netral pada kertas universal, namun basa pada kertas lakmus. Pada umumnya
menghasilkan pH netral karena berasal dari asam kuat dan basa kuat. Hal ini
terjadi akibat tercampurnya kertas pH dengan larutan lain. Pada asam sulfat,
menghasilkan pH asam. Hal ini karena asam sulfat merupakan asam kuat. Sedangkan
NaOH menghasilkan pH basa. Hal ini karena NaOH merupakan basa yang kuat.
IV. Daftar Pustaka
Bassett. J., 1994. Buku Ajar Vogel
Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik.Cetakan 1.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Haryadi, W. 1996. Ilmu Kimia Analitik
Dasar. Jakarta : PT Gramedia
Sudarmo, Unggul.2006.Kimia 3.Jakarta :
Erlangga
Sukarti, T. 2008. Kimia Analitik.
Widya Padjadjaran. Bandung.
Sutresna, Nana. 2006. Kimia SMU.
Bandung: Grafindo
Wiryawan, Ahmad., Rarini, Retnowati,.
Akhmad, Sabarudin. 2007. Kimia Analitik. Malang
Comments
Post a Comment