Pembuatan dan Pengenceran Larutan
PEMBUATAN DAN PENGENCERAN LARUTAN
Gabrielle Zhe (2101631033)
I.
Tujuan
dari praktikum :
a.
Membuat
larutan dengan konsentrasi tertentu
b.
Mengencerkan
larutan dengan konsentrasi tertentu
II.
Metodologi
2.1
Alat
·
Labu
ukur
·
Gelas
kimia
·
Pipet
ukur
·
Bulp
·
Neraca
analitik
·
Gelas
ukur
·
Label
2.2
Bahan
·
Aquadest
·
Padatan
NaCl
·
Gula
pasir
·
Etanol
96 %
·
HCl
37 %
2.3
Langkah
Kerja
a.
Siapkan
bahan dan alat yang dibutuhkan dalam praktikum stoikhiometri.
b.
Lakukan
perhitungan sebelum membuat / mengencerkan suatu larutan
c.
Isi
gelas kimia dengan :
1.
Gelas
kimia 1 diisi dengan 0.585 gram NaCl
2.
Gelas
kimia 2 diisi dengan 0.01 gram NaCl
3.
Gelas
kimia 3 diisi dengan 70 mL etanol 70 %
4.
Gelas
kimia 4 diisi dengan 12 gram gula.
5.
Gelas
kimia 5 diisi dengan 0.84 mL HCl 37 %
d.
Masing
– masing gelas kimia yang berisi zat terlarut dilarutkan dengan aquadest
30 mL.
e.
Tuangkan
hasil masing – masing pelarutan tersebut ke dalam masing – masing labu ukur dan
hasil bilas dari gelas kimia dituangkan ke dalam gelas ukur.
f.
Tambahkan
aquadest ke dalam labu ukur hingga mencapai garis tetra dari labu ukur
tersebut.
g.
Homogenkan
hasil larutan tersebut hingga larutan homogen.
III.
Hasil
dan Pembahasan
3.1 Hasil
1.
Buatlah
larutan NaCl dengan konsentrasi 0.1 M dalam 100 mL.
Diketahui :
Volume larutan (akhir) :
100 mL
Konsentrasi : 0.1 M
Ditanya :
Massa yang dibutuhkan
untuk membuat larutan tersebut ?
Dijawab :
Gunakan rumus molaritas :
2.
Buatlah
larutan NaCl 100 ppm dalam 100 mL.
Diketahui :
Volume larutan (akhir) :
100 mL
ppm : 100 ppm
Ditanya :
Massa yang dibutuhkan
untuk membuat larutan tersebut ?
Dijawab :
Gunakan rumus ppm (part
per million) :
3.
Buatlah
larutan etanol 70 % dalam 100 mL.
Diketahui :
Volume larutan (akhir) :
100 mL
% volume awal : 96 %
% volume akhir : 70 %
Ditanya :
Volume yang dibutuhkan
untuk membuat larutan tersebut ?
Dijawab :
Gunakan rumus persen
volume :
4.
Buatlah
larutan gula 12 % dalam 100 mL.
Diketahui :
Volume larutan (akhir) :
100 mL
% massa : 12 %
Ditanya :
Massa yang dibutuhkan
untuk membuat larutan tersebut ?
Dijawab :
Gunakan rumus persen massa
:
5.
Buatlah
larutan HCl dengan konsentrasi 0.1 M dalam 100 mL dari larutan HCl 37 %. .
Diketahui :
Volume larutan (akhir) :
100 mL
Konsentrasi akhir : 0.1 M
Kadar HCl sumber : 37 %
Ditanya :
Volume yang dibutuhkan
untuk membuat larutan tersebut ?
Dijawab :
Mencari molaritas / kadar
awal :

Lalu gunakan rumus pengenceran
:
3.2 Pembahasan
Larutan
didefinisikan sebagai campuran homogeny yaitu campuran yang memiliki komposisi
serba sama di seluruh bagian volumenya. Suatu larutan terdiri dari dari satu
atau beberapa macam zat terlarut dan satu pelarut. (Widjajanti, 2007). Solven
sebagai komponen yang secara fisik tidak berubah jika larutan terbentuk,
sedangkan solut sebagai semua komponen yang larut dalam pelarut. Sifat larutan menurut (Sutersna, 2007)
sebagai berikut tidak ada bidang batas antara komponen – komponen penyusun,
antara partikel solven dan solute tidak dapat dibedakan, komponen yang paling
banyak dianggap sebagai pelarut jika larutan berbentuk cair maka air yang
dianggap sebagai pelarut, dan komposisi di seluruh bagian adalah sama.
Ada
banyak jenis larutan berdasarkan penggolongan tertentu. Berdasarkan daya
hantarnya, terdapat larutan elektrolit yang mampu menghantarkan listrik dan
larutan non elektrolit yang tidak mampu menghantarkan listrik dan larutan.
Berdasarkan derajat keasamaannya, terdapat larutan asam, basa, dan netral.
Berdasarkan komponen penyusunannya, terdapat larutan ion dan kovalen.
Dalam
kehidupan manusia, larutan dapat dibuat dan diencerkan. Oleh karena itu, dalam
pembuatan larutan dibutuhkan perhitungan tertentu untuk dapat membentuk larutan
dengan konsentrasi dan volume tertentu. Perhitungan tersebut adalah :
a.
Mol
Merupakan salah satu
komponen terpenting dalam perhitungan ini. Karena mol adalah satuan jumlah zat
dalam suatu massa tertentu. Biasanya untuk lebih mudah dipahami, jumlah satuan
zat ini dikonversi menjadi jumlah butir melalui bilangan Avogadro.

b.
Molaritas
Molaritas menyatakan kadar
suatu zat dalam larutan. Sehingga molaritas dapat ditentukan dengan cara
membagi jumlah zat dalam larutan dengan volume larutan. Pernyataan ini sema
dengan (Mulyono, 2012) yang menyatakan satu molar, atai 1 M suatu larutan
didefinisikan sebgaai 1 mol suatu zat terlarut di dalam 1 liter larutan, atau
1mmol zat itu terlarut dalam 1 ml larutan.
c.
Molalitas
Molalitas merupakan suatu
konsentrasi larutan yang menyatakan banyaknya mol senyawa atau zat setiap
kilogram pelarut (solvent). Jadi molalitas juga menentukan konsentrasi dari
suatu larutan, hanya saja menggunakan massa dari pelarutnya.
d.
Normalitas
Normalitas disefinisikan
sebagai jumlah mol ekivalen dari suatu zat per liter larutan. Yang dimaksud
dengan ekuivalen adalah jumlah ion OH- atau jumlah ion H+
dalam suatu senyawa / larutan. Dimana nantinya konsentrasi normal berbanding
lurus dengan massa dan berbanding terbalik dengan berat ekuivalen dan volume (Mulyono,
2012).
e.
Persen
massa
Persen massa menyatakan
jumlah massa zat yang terlarut dalam 100 mL larutan. Biasanya digunakan untuk
mencari berapa kadar massa suatu zat dalam larutan.
f.
Persen
volume
Persen volume menyatakan
jumlah volume zat yang terlarut dalam 100 mL larutan. Biasanya digunakan untuk
mencari berapa kadar volume suatu zat dalam larutan.
g.
Fraksi
mol
Fraksi mol menyatakan mol
suatu zat per jumlah mol keseluruhan. Biasanya fraksi mol digunakan untuk
menyatakan perbandingan antara mol terlarut dan mol pelarut. Sehingga bila
dijumlahkan, jumlah perbandingan diantara keduanya adalah satu.
h.
Perhitungan
untuk konsentrasi larutan yang kecil
Dua rumus dibawah ini
biasanya digunakan apabila konsentrasi suatu larutan sangat kecil. Satuan ini
banyak digunakan dalam analisis unsur dalam jumlah trace (kelumit) dengan SSA
(Spektrometri Serapan Atom).
·
Part
per million

·
Part
per billion
Selain
membuat larutan, kita dapat mengencerkan larutan dari suatu larutan murni /
larutan dengan kadar konsentrasi yang tinggi. Cara mengencerkan adalah dengan
menambahkan aquadest dalam larutan tersebut atau dengan pekarut lain. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan konsentrasi larutan yang lebih rendah. Konsentrasi
rendah dapat dicapai apabila zat terlarut / solute memiliki kadar yang lebih
rendah dari pelarutnya / solvent. Seperti yang telah disebutkan, solute
merupakan zat yang dilarutkan dalam solvent. Apabila jumlahnya lebih besar dari
solvent, maka terjadi pengendapan / jenuh. Sedangkan solvent adalah zat yang
akan melarutkan berbagai zat solute. Sehingga pengenceran yang dimaksudkan dalam larutan kimia, yaitu
memperbesar jumlah pelarut pada suatu larutan yang mempunyai jumlah mol zat
tertentu. Jumlah mol zat terlarut hasil pengenceran yang ada dalam larutan
tidak berubah, namun konsentrasi larutan berubah, hal ini disebabkan karena
perubahan volume pelarut dalam jumlah zat terlarut yang sama.
Maka rumus pengenceran
adalah :
Dalam
melakukan pembuatan maupun pengenceran larutan, tentu ada kalanya terjadi
kesalahan. Hal ini dapat terjadi akibat berbagai faktor. Diantaranya adalah
kurangnya ketelitian dalam menghitung jumlah kebutuhan suatu solute / solvent,
kesalahan / kurang ketelitian dalam mengukur baik solute maupun solvent,
kesalahan dalam mengukur / tidak mengalibrasi alat ukur, dan larutan yang
berkurang akibat pengadukan larutan agar homogen.
Oleh
karena itu, dalam melakukan pembuatan / pengenceran larutan perlu teliti dan
berhati – hati. Untuk dapat menguji apakah larutan tersebut sudah sesuai dengan
keinginan dapat menggunakan alat pengukuran. Alat yang umum digunakan berupa
titrationmeter dan spectofotometer UV – Vis.
Titrationmeter memanfaatkan prinsip titrasi untuk menentukan
konsentrasi larutan. Titik ekivalen reaksi akan ditunjukkan
oleh perubahan potensial secara mendadak dalam aturan e.m.f. yang dibaca lawan
volume larutan penitrasi. Berbagai macam reaksi titrasi yang dapat diikuti
pengukuran potensiometri diantaranya reaksi netralisasi, reaksi redoks serta
reaksi pembentukkan kompleks dan pengendapan (Khopkar, 1990).
Spektrofotometer UV-Vis (Ultra Violet-Visible) adalah salah
satu dari sekian banyak instrumen yang biasa digunakan dalam menganalisa suatu
senyawa kimia. Spektrofotometri UV-Vis merupakan gabungan antara
spektrofotometri UV dan Visible. Alat
ini menggunakan hukum Lambert Beer sebagai acuan (Ewing, 1975). Dimana alat ini menggunakan dua buah
sumber cahaya yang berbeda, yaitu sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible. Sinar/cahaya
dilewatkan melewati sebuah wadah (kuvet) yang berisi larutan, dimana akan
menghasilkan spectrum. Sehingga larutan yang dianalisis diukur
serapan sinar ultra violet atau sinar tampaknya. Konsentrasi larutan yang
dianalisis akan sebanding dengan jumlah sinar yang diserap oleh zat yang
terdapat dalam larutan tersebut.
IV.
Daftar
Pustaka
Sutersna,
Nana. 2007. Kimia. Bandung: Grafindo Media Pratama.
UM.
(2012). Identifikasi Persepsi Konsep Sukar dan Kesalahan Konsep Mol dan Tetapan
Avogadro pada Siswa Kelas XI IPA SMAN 2 MALANG Tahun Ajaran 2012-2013.
Diperoleh 1 November 2017
UNSRI.
(2012). Modul Praktikum Oseanografi Kimia. Diperoleh 1 November 2017
UNSYIAH.
(2015). Kimia Larutan. Diperoleh 1 November 2017
USU.
(Tanpa Tahun). Uraian Tumbuhan. Diperoleh 1 November 2017
Widjajanti,
Endang. 2007.“Sifat Larutan Biner Non Elektrolit”. Pedalaman Materi Kimia. 1 (1): 1.
Comments
Post a Comment