Senyawa Ionik dan Kovalen


SENYAWA IONIK DAN KOVALEN
Gabrielle Zhe (2101631033)

I.       Tujuan  
       Mempelajari sifat – sifat fisik senyawa ionic dan senyawa kovalen

II.     Tinjauan Pustaka
Ikatan kimia merupakan interaksi antara 2 atom atau molekul yang menyebabkan suatu senyawa diatomi atau poliatomik menjadi stabil. Artinya mereka melakukan ikatan kimia agar mereka bisa menjadi bentuk yang stabil seperti oktet (electron valensi berjumlah 8) atau duplet (electron valensi berjumlah 2, biasanya hanya terjadi pada atom hidrogen) yang merupakan ciri khas dari golongan 8A  / gas mulia yang dikenal sebagai atom yang stabil. Karena memang semua atom memiliki kecenderungan untuk dapat menjadi atom yang stabil.Meskipun memang ada beberapa atom yang tidak akan bisa menjadi oktet / ada yang berlebihan electron valensinya. Sehingga keadaan ini kita kenal sebagai penyimpangan aturan oktet. Contohnya BeCl2, PCl5, XeF6. Ikatan kimia yang dibentuk oleh atom tergantung dari struktur elektron atom. Misalnya, energi ionisasi dan kontrol afinitas elektron dimana atom menerima atau melepaskan elektron. Ikatan kimia dapat dibagi menjadi dua kategori besar : ikatan ion dan ikatan kovalen. Ikatan ion terbentuk jika terjadinya perpindahan elektron di antara atom untuk membentuk partikel yang bermuatan listrik dan mempunyai daya tarik-menarik. Daya tarik menarik di antara ion-ion yang bermuatan berlawanan merupakan suatu ikatan ion. Ikatan kovalen terbentuk dari terbaginya (sharing) elektron di antara atom-atom. Dengan perkataan lain, daya tarik-menarik inti atom pada elektron yang terbagi di antara elektron itu merupakan suatu ikatan kovalen (Brady, 1999).
Ikatan kimia biasanya tidak dapat terlihat dengan mata telanjang. Sehinga muncul model untuk menggambarkan proses ikatan kimia tersebut. Salah satu contoh modelnya adalah struktur lewis. Struktur lewis biasanya menggambarkan bagaimana electron valensinya saling berinteraksi membentuk ikatan.
Contoh dari ikatan ionic adalah NaCl, yang dikenal di masyarakat dengan garam dapur, NaHCO3 atau baking soda untuk mengembangkan tekstur kue, NaF untuk memutihkan gigi, atau NaOH yang menjadi salah satu bahan pada pembuatan sabun. Contoh dari ikatan ionic adalah ikatan antar atom yang sama atau dikenal dengan diatomic seperti oksigen atau O2 yang menjadi sumber respirasi bagi makhluk hidup, Nitrogen atau N2 sebagai salah satu manfaat bagi akar rhizobium atau dikenal kelompok tumbuhan kacang - kacangan, Iodin atau I2 sebagai salah satu bahan untuk antiseptik. Sedangkan contoh lainnya berupa lemak , karbohidrat (terutama kelompok glukosa), dan protein yang bisa menjadi salah satu sumber energi bagi makhluk hidup. Selain itu ada juga kelompok asam, urea, kelompok senyawa organic yang juga menjadi salah satu contoh dari hasil ikatan kovalen.
Mengenai senyawa amfoter, senyawa amfoter adalah senyawa yang memiliki 2 sifat dalam 1 senyawa. Sifat tersebut adalah bisa sebagai senyawa asam dan juga bisa menjadi senyawa basa. Ketika dalam keadaan asam, senyawa amfoter akan bertindak sebagai basa. Sedangkan pada keadaaan basa, senyawa amfoter akan bertindak sebagai asam. Sehingga amfoter dapat menyeimbangkan keadaan. Namun amfoter berbeda dengan buffer. Karena buffer hanya mengandalkan ion H+, sedangkan amfoter dapat menggunakan kedua sifatnya, yaitu asam dan basanya. Namun terkadang senyawa amfoter juga mampu menyesuaikan dirinya dengan pH lingkungan.
Senyawa amfoter dapat ditemukan dalam lingkungan. Salah satu contohnya adalah pada protein. Protein merupakan salah satu molekul yang ada dalam tubuh makhluk hidup. Meskipun disusun dengan atom yang sama dengan molekul karbohidrat dan lemak, namun protein sangat special. Karena protein memiliki 2 gugus yang berbeda yang menyebabkan protein bersifat amfoter. Gugus basanya berupa kelompok amino, yang merupakan ciri khas dari kelompok asam amino. Sedangkan gugus asamnya berupa gugus karboksilat. Dengan adanya sifat amfoter inilah, protein mampu dicerna dengan baik dalam lambung. Karena seperti yang kita tahu, bahwa lambung memiliki asam klorida yang sangat asam. Selain itu, lambung mencerna protein manjadi pepsin. Sehingga untuk menyesuaikan diri, protein pun menjadi pH yang asam. Ager kerja lambung maksimal. Caranya dengan menghilangkan gugus amino. Sehingga pH menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
Selain itu, senyawa amfoter lainnya berupa aluminium hidroksida. Al(OH)3 dapat digunakan dalam industry farmasi sebagai obat maag. Hal ini karena senyawa ini dapat berperan sebagai antaisida atau menetralkan asam lambung dengan cara menjadi basa. Reaksi:
 Al(OH)3 + 3HCl → AlCl3 + 3H2O
Sedangkan untuk berperan sebagai asam, aluminium hidroksida akan bereaksi dengan basa,
Al(OH)3 + NaOH → NaAl(OH)4
Hasil dari reaksi tersebut berupa alumina. Alumina umumnya digunakan dalam industri pertambangan, otomotif, atau pun dijadikan bahan refraktori. Alumina digunakan dalam bidang tersebut karena memiliki ketahanan yang baik seperti sifat fisis yang baik antara lain, daya tahan panas yang tinggi, penghambat listrik yang baik, tahan terhadap abrasi, dan daya tahan terhadap korosi yang tinggi (Kagaku et.al., 2007). Oleh karena itu, senyawa amfoter sangat berguna bagi kehidupan makhluk hidup khususnya bagi kehidupan manusia.

III.    Metodologi
3.1  Alat

·        Tabung reaksi
·        Rak tabung reaksi
·        Pipet ukur 1 mL
·        Pipet ukur 5 mL
·        Sisir
·        Statif
·        Klem
·        Buret
·        Gelas kimia
·        Power supply
·        Kabel
·        Baterai
·        Lampu

3.2  Bahan

·        NaCl (0.5 M & 1 M)
·        Wol
·        Iodin
·        Aquadest
·        Sikloheksana
·        Urea (0.5 gram)
·        2 - propanol
·        Amonium Sulfat (0.5 M & 1M)
·        Jeruk nipis
·        Kalium Iodida    (0.5 M)


IV.   Langkah Kerja
A.     Kepolaran senyawa ionic dan kovalen
1.   Pasang buret pada statif sebanyak 2 set. Masukkan larutan iodin pada buret 1 dan masukan larutan NaCl 1 M pada buret 2
2.     Gosokan sisir dengan rambut / wol dengan arah yang sama selama 2 – 3 menit.
3.     Sisir didekatkan kepada aliran larutan iodin, amati yang terjadi.
4.     Lakukan langkah nomor 2 untuk melihat aliran larutan NaCl 1 M.

B.     Perbandingan kelarutan
1.     Timbang 0.5 gram urea sebanyak 2 kali.
2.     Masukkan masing – masing 0,5 gram urea ke dalam masing – masing tabung reaksi.
3.     Masukkan air sebanyak 1 mL pada tabung reaksi pertama dan masukkan sikloheksana sebanyak 1 mL pada tabung reaksi kedua.
4.     Masukkan air sebanyak 1 mL pada 4 tabung
a.     Tabung a ditambahkan dengan 1 mL NaCl 0.5 M
b.     Tabung b ditambahkan dengan 1 mL KI 0.5 M
c.      Tabung c ditambahkan dengan 1 mL (NH4)2SO4
d.     Tabung d ditambahkan dengan 1 mL 2 – propanol
5.     Masukkan air sebanyak 1 mL pada 4 tabung
a.     Tabung a ditambahkan dengan 1 mL NaCl 0.5 M
b.     Tabung b ditambahkan dengan 1 mL KI 0.5 M
c.      Tabung c ditambahkan dengan 1 mL (NH4)2SO4
d.     Tabung d ditambahkan dengan 1 mL 2 – propanol
C.    Perbandingan daya hantar
1.     Siapkan 7 gelas kimia.
a.     Isi gelas kimia a dengan aquadest 20 mL
b.     Isi gelas kimia b dengan urea 20 mL
c.      Isi gelas kimia c dengan 2 – propanol 20 mL
d.     Isi gelas kimia d dengan NaCl 1 M, 20 mL
e.     Isi gelas kimia e dengan KI 1 M, 20 mL
f.       Isi gelas kimia f dengan (NH4)2SO4 1 M, 20 mL
g.     Isi gelas kimia g dengan jeruk nipis 20 mL
2.     Rangkai alat untuk percobaan daya hantar listrik. Pastikan alat – alat berfungsi dengan baik.
3.     Celupkan electrode karbon pada larutan gelas kimia a. Amati gelembung gas dan nyala lampu.
4.     Bila sudah, carbon dibersihkan dengan aquadest dan dikeringkan
5.     Ulangi percobaan untuk larutan gelas kimia lainnya.

V.     Hasil dan pembahasan

5.1  Hasil
Perlakuan
Iodin (I2)
Natrium klorida (NaCl)
Sisir yang digosok didekatkan kearah aliran larutan 
Arah aliran mendekati sisir sedikit.
Arah aliran mendekati sisir.

No
Bahan
Kelarutan dalam
Aquadest
Sikloheksana
1
Urea
Tidak semua larut, dingin
Tidak larut, dingin, bau
2
NaCl
Larut
Tidak larut / berlayer
3
KI
Larut
Tidak larut / berlayer
4
(NH4)2SO4
Larut
Tidak larut / berlayer, bau khas alcohol
5
2 – Propanol
Larut
Tidak larut / berlayer, bau khas alcohol

No
Bahan
Kondisi lampu
Nyala
Tidak nyala
1
Aquadest

-
2
Urea

-
3
NaCl
+

4
KI
++++

5
(NH4)2SO4
++

6
2 – propanol

-
7
Jeruk nipis
+++



5.2  Pembahasan
Seperti yang sudah dikatakan, bahwa senyawa umumnya dihasilkan akibat ikatan ionic maupun kovalen. Ikatan ion dapat terbentuk apabila electron dari atom yang 1 berpindah ke atom yang lainnya. Karena itu kita mengenal adanya istilah kation dan anion. Kation apabila atom mengalami pengurangan electron dan anion apabila atom mengalami penambahan ion. Karena diantara mereka ada gaya elektrostatik, maka akhirnya mereka berikatan. Senyawa ionic umumnya memiliki beberapa sifat fisika. Sifat fisika dari senyawa ionic adalah muatannya netral. Hal ini karena masing masing ion dari senyawa tersebut sudah saling berikatan. Sehingga umumnya tidak ada ion yang berlebih. Selain itu memiliki titik leleh dan titik didih yang meningkat sesuai peningkatan gaya elektrostatik senyawa tersebut. Selain itu senyawa ionic memiliki daya hantar yang baik. Hal ini karena muatan dalam senyawa ionic yang sangat berbeda. Maka itu sifatnya adalah polar. Biasanya ikatan ionic terjadi antara golongan alkali / alkali tanah sebagai kation dengan anion.
Sedangkan senyawa kovalen dapat terjadi bila ada pemakaian sepasang / lebih pasangan electron yang menyebabkan atom – atom yang berikatan memperoleh susunan oktet. Berbeda dengan ikatan ionic antara logam – non logam, ikatan kovalen terjadi antara non logam – non logam. Kovalen umumnya ada 2 jenis, yaitu kovalen polar dan kovalen non polar. Kovalen polar memiliki daerah yang berbeda kutub. Sedangkan kovalen non polar memiliki struktur yang simetris. Sifat-sifat senyawa kovalen antara lain kebanyakan menunjukkan titik leleh rendah, pada suhu kamar berbentuk cairan atau gas, larut dalam pelarut non polar dan sedikit larut dalam air, sedikit menghantarkan listrik, mudah terbakar dan banyak yang berbau (Syukri, 1999). Contohnya seperti golongan ester / aromatik yang memiliki bau yang khas. Atau seperti klorin yang berbentuk gas dalam suhu kamar dan iodin yang berbentuk cairan dalam suhu kamar.
Pada percobaan pertama, kita dapat mengetahui tingkat kepolaran suatu senyawa. Pada larutan Iodin, larutan berbelok kearah sisir yang telah digosok. Namun arah beloknya sangat kecil. Hal ini karena sisir yang digosok memiliki kelebihan electron. Sedangkan pada Iodin, terjadi ikatan kovalen tunggal dan memiliki PEB (Pasangan Elektron Bebas) yang cukup banyak. Sehingga larutan tidak tertarik kuat kearah sisir yang telah digosok.
Sedangkan pada larutan Natrium klorida, Pasangan Elektron Bebasnya tidak sebanyak pada iodin. Sehingga larutan lebih mudah tertarik kearah sisir yang telah digosok.    
Pada percobaan kedua, kita dapat mengetahui kelarutan senyawa tertentu terhadap pelarut polar dan non polar. Pada senyawa polar, umumnya larut dalam pelarut polar dan senyawa non polar umumnya larut dalam pelarut non polar.
Pada pelarut aquadest yang bersifat polar. Sehingga seharusnya bahan yang bersifat polar seperti ion / kovalen polar akan larut. Pada urea, urea dapat larut, namun tidak sepenuhnya, namun menghasilkan dingin. Hal ini karena terjadi reaksi endoterm. Artinya urea mengambil / menyerap energy dari lingkungan. Sehingga panas diserap dan akhirnya menghasilkan dingin pada lingkungan. Pada NaCl, KI, dan (NH4)2SO4 larut sepenuhnya karena mereka adalah senyawa ionic yang bersifat polar. Sedangkan 2 – propanol adalah senyawa organic larut dalam aquadest meskipun senyawa kovalen.
Pada pelarut sikloheksana yang bersifat non polar. Sehingga seharusnya bahan yang bersifat polar seperti ion / kovalen polar tidak akan larut. Pada urea, urea dapat larut, namun tidak sepenuhnya. Pada NaCl, KI, dan (NH4)2SO4 tidak larut sepenuhnya karena mereka adalah senyawa ionic yang bersifat polar. Sehingga muncul seperti 2 lapisan. Sedangkan 2 – propanol adalah senyawa organic tidak larut dalam sikloheksana. Padahal pada teori, senyawa non polar akan larut dengan pelarut non polar. Hal ini mungkin dikarenakan sikloheksana adalah senyawa siklik. Sehingga daya melarutkannya tidak sekuat non polar yang rantai lurus.   
Pada percobaan ketiga, kita dapat mengetahui daya hantar listrik pada senyawa. Pada aquadest, lampu tak menyala dan tidak ada gelembung gas. Padahal secara teori, aquadest termasuk senyawa kovalen polar, sehingga kutub – kutubnya mampu menimbulkan gelembung gas dan nyala lampu. Pada natrium klorida lampu menyala redup dan sedikit menimbulkan gelembung gas. Menurut teori, natrium klorida merupakan senyawa ion yang bisa menghantarkan listrik dengan kuat. Hal ini mungkin akibat konsentrasi yang kurang tinggi dari larutan natrium klorida. Pada larutan kalium iodida, daya hantarnya cukup kuat, hal ini disebabkan karena KI adalah senyawa polar. Selain itu, mungkin karena adanya berat molekul dan kekuatan ikatannya yang berbeda dengan NaCl. Pada (NH4)2SO4, terjadi nyala lampu yang tidak seterang KI da nada gelembung gas. Hal ini karena senyawa merupakan senyawa ionic, sehingga lampu dapat menyala. Namun akibat konsentrasi yang kurang tinggi dan mungkin berat molekulnya tidak sebesar KI. Pada 2 – propanol, tidak ada penghantaran listrik. Karena 2 – propanol adalah senyawa non polar. Pada jeruk nipis, larutan dapat menghantarkan listrik. Hal ini karena jeruk nipis mengandung kelompok asam, asam sitrat yang merupakan senyawa kovalen polar. Sehingga nyala lampu tidak sekuat senyawa ion seperti KI.

VI.   Kesimpulan
Bahwa senyawa ionic memiliki sifat fisik berupa mudah tertarik dengan electron, mampu larut dalam dalam pelarut polar, dan menghantarkan listrik. Sedangkan senyawa kovalen memiliki sifat fisik berupa sedikit tertarik dengan electron, mampu larut dalam dalam pelarut non polar dan sedikit polar, dan tidak menghantarkan listrik.


VII. Daftar Pustaka

                      Unila. (Tanpa Tahun). Pendahuluan Alumina. Diperoleh 12 Oktober 2017, dari
                           http://digilib.unila.ac.id/5837/16/BAB%20I.pdf

                      Unikom. (Tanpa Tahun).Ikatan Kimia. Diperoleh 12 Oktober 2017, dari
                           http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=46410

                      UGM. (Tanpa Tahun). Molekul, Ion, dan Senyawa Kimia. Diperoleh 12Oktober                             2017.  

                      UGM. (2016). Faktor yang Mempengaruhi Daya Hantar Listrik. Diperoleh 12                              Oktober 2017

                      UNY. (2008). Makalah Pengabdian pada Masyarakat Teori Asam – Basa.                                  Diperoleh 12 Oktober 2017

Comments

Popular posts from this blog

Reaksi Kimia

Biologi - Pengenalan Mikroskop

Kalori