Termokimia
TERMOKIMIA
Gabrielle
Zhe (2101631033)
I.
Tujuan :
1. Menentukan
reaksi eksotermis dan endotermis
2. Menentukan
tetapan kalorimeter
3. Menentukan
kalor reaksi suatu reaksi kimia
II.
Tinjauan Pustaka
Ilmu
kimia yang mempelajari perubahan kalor atau panas suatu zat yang menyertai
suatu reaksi atau proses kimia dan fisika disebut termokimia. Dalam termokimia,
kita akan mengenal istilah yang dinamakan system dan lingkungan. Sistem
merupakan sesuatu / area yang sedang terjadi suatu proses. Sedangkan lingkungan
adalah area yang berada di sekitar system. Oleh karena itu kita juga mengenal
system terbuka dan system tertutup. Sistem terbuka dapat terjadi karena ada
pertukaran materi antara system dan lingkungannya. Ini membuat adanya perubahan
massa dan energy. Contohnya seperti kapur barus yang menguap di udara atau uap
dari pemanasan air yang lepas ke udara. Sedangkan system tertutup hanya terjadi
pertukaran energy pada lingkungan. Contohnya seperti bungkus es krim yang
dingin karena adanya es krim didalamnya. Sedangkan system terisolasi adalah
tidak adanya proses pertukaran materi maupun energy. Contohnya termos yang
tahan terhadap lingkungan di luarnya namun juga menahan air agar tetap hangat /
dingin.
Berdasarkan
panas atau kalor atau energi yang dihasilkan, suatu reaksi kimia dibedakan
menjadi reaksi eksoterm dan reaksi endoterm. Reaksi dikatakan eksoterm bila
proses reaksi tersebut menghasilkan panas atau kalor. Sedangkan suatu reaksi
dikatakan endoterm bila menyerap kalor atau panas atau energi dari
lingkungannya untuk proses reaksi tersebut. Contoh reaksi eksoterm adalah
reaksi karbit dengan air. Kalsium oksida yang digunakan dalam beberapa produk
makanan / food military (MRE) agar makanan yang dibawa dapat hangat saat
dikonsumsi. Selain itu ada juga proses respirasi yang melibatkan oksigen untuk
melakukan metabolisme sehingga mampu menghasilkan energy dalam bentuk Adenosin
TriPhospat. Sedangkan contoh reaksi endoterm adalah proses fotosintesis yang
menyerap energy untuk menghasilkan glukosa. Lalu pelarutan urea dalam air yang
hasilnya terasa dingin di kulit kita.
Kalorimeter
adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlibat dalam
suatu perubahan / reaksi kimia. Kalorimeter
terdirir atas sebuah bejana logam yang kalor jenisnya sudah diketahui
sebelumnya. Bejana itu ditempatkan dalam suatu wadah bejana lain dengan cara
dipisahkan (tidak terdapat kemungkinan bersinggungan secara langsung) diantara
kedua bejana tadi diberi isolator yang mencegah terjadinya pertukaran kalor
dengan udara luar (Purwoko, 2007). Pengukuran jumlah kalor dalam suatu
reaksi kimia disebut dengan kalorimetri. Prinsip dari calorimeter menggunakan
prinsip hukum Hess. Hukum Hess berbunyi “kalor
reaksi tidak bergantung pada lintasan, tetapi hanya ditentukan keadaan awal dan
keadaan akhir”. Artinya kalor dari suatu reaksi yang kurang lebih sejenis,
walaupun menggunakan 1 langkah / lebih dari satu langkah kalor reaksinya akan
berjumlah sama. Karena penentu kalor tersebut hanyalah keadaan awal dan
akhirnya saja. Jadi hukum Hess adalah suatu hukum yang mengemukkan bahwa
setiap reaksi memiliki ∆H tetap dan tidak bergantung pada jalan reaksinya atau
jumlah tetap reaksi melainkan hanya tergantung dari keadaan awal dan keadaan
akhir. Tak hanya itu, calorimeter juga menggunakan prinsip dari asas Black. Prinsip
kerja kalorimeter didasarkan pada Azas Black yang dinyatakan sebagai berikut :
· Jika dua benda yang mempunyai suhu berbeda
didekatkan sehingga terjadi kontak maka temperatur akhir kedua benda yang
mempunyai suhu berbeda setelah keseimbangan termis tercapai akan sama.
· Jumlah kalor yang diterima = jumlah
kalor yang diberikan. (Wahyuni, 2010).
Azas Black berbunyi sebagai berikut : “Jumlah kalor yang
diterima ama dengan jumlah kalor yang dilepaskan (Purwoko, 2007).
Aplikasi calorimeter dalam kehidupan manusia adalah kita
dapat menentukan kalor jenis suatu bahan yang belum kita ketahui kalor
jenisnya. Karena calorimeter dapat berhubungan dengan listrik, maka
pengaplikasiannya juga sangat dekat dengan kehidupan sehari – hari adalah
setrika listrik, rice cooker, microwave, pengasap ikan, pemanas air
listrik dan lain-lain.
Qlepas = Qterima
M1 X C1 X (T1-TCampuran)
= M2 X C2 X (TCampuran-T2)
Oleh karena itu, dalam perhitungan
kalorimetri, sangat penting untuk mengetahui bagaimana perubahan – perubahan
suhu yang terjadi dalam reaksi tersebut.
III. Metodologi
3.1 Alat
· Kalorimetri
· Erlenmeyer
· Gelas
ukur 100 mL
· Breaker
glass 250 mL
· Pipet
ukur 5 mL
· Timbangan
· Termometer
· Hot
plate
· Stopwatch
· Bulb
3.2 Bahan
· HCl
(1 M)
· NH4Cl
(1 M)
· Aquadest
· NaOH
(1 M)
· Pita
Magnesium
IV. Langkah
Kerja
A. Reaksi
eksotermis dan endotermis
1. HCl
dan NH4Cl
a. Masukkan
3 mL larutan HCl 1 M ke dalam tabung reaksi.
b. Tambahkan
3 mL larutan NH4Cl 1 M .
c. Amati
dan sentuh dinding tabung reaksi
B. Tetapan
Kalorimetri
1. Standarisasi
kalorimetri
a. Siapkan
2 buah thermometer
b. Masukkan
keduanya kedalam aquadest 150 mL.
c. Perhatikan
temperaturnya setelah 1 menit.
2. Masukkan
50 mL aquadest hasil kalibrasi ke dalam Erlenmeyer dan panaskan hingga 500C.
3. Catat
waktu setiap menit dimulai dari suhu 500C selama 3 menit.
4. Sambil
mengerjakan langkah kedua, timbang calorimeter dalam keadaan kering dan bersih.
5. Masukkan
50 mL aquadest kalibrasi yang telah dingin bersuhu 200C ke dalam gelas
kimia.
6. Amati
suhu aquadest dingin setiap menit dimulai dari suhu 200C hingga menit ketiga.
7. Masukkan
air dingin dan air panas ke dalam calorimeter secara cepat. Kemudian timbang
kembali massa calorimeter.
8. Ukur
suhu aquadest campuran dalam calorimeter setiap menit selama 3 menit berikutnya
sambil dilakukan pengadukan .
9. Hitung
perubahan temperature, kalor yang dilepas air panas dan kalor yang diterima air
dingin, serta kalor yang diterima kalorimetri.
C. Kalor
Netralisasi
a. Masukkan
20 mL larutan HCl 1 M ke dalam calorimeter dan 20 mL larutan NaOH 1 M ke dalam
Erlenmeyer.
b. Ukur
suhu keduanya setiap menit selama 3 menit.
c. Tuang
NaOH ke dalam calorimeter yang berisi 20 mL larutan 20 mL larutan HCl 1 M.
d. Ukur
suhunya setiap menit selama 3 menit.
e. Hitung
perubahan temperature, kalor yang diterima NaOH dan HCl , serta kalor yang
diterima kalorimetri dan perubahan entalpinya.
V.
Hasil dan Pembahasan
5.1 Hasil
Tabel A Reaksi Eksotermis dan endotermis
|
Larutan 1
|
Larutan 2
|
Hasil
|
|
HCl
|
NH4Cl
|
Larutan menjadi dingin.
|
Tabel B. Tetapan calorimeter
|
|
Berat (Gram)
|
Temperatur pada
menit ke ---
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
||
|
Air panas
|
17.2
|
49
|
48
|
47
|
|
|
|
|
|
Air dingin
|
49.4
|
19
|
18
|
17
|
|
|
|
|
|
Campuran
|
342.4
|
|
|
|
|
31,5
|
31
|
30.5
|
Perhitungan :
QAir dingin = mAir dingin x.
CAir x
Air dingin
= 49.4 x 10-3 x 4200 x 14.5
= 3,008.460 J
QAir panas = mAir panas x.
CAir x
Air panas
= 17.2 x 10-3 x 4200 x 15.5
= 1,119.720 J
QLepas = QTerima
QAir panas = QAir dingin + QKalorimeter
1,119.720 J = 3,008.460 J + QKalorimeter
-1,888.74 J = QKalorimeter
-1,888.74 J = CKalorimeter x
Kalorimeter
-1,888.74 J = CKalorimeter x (T5
– T3 rerata)
Tabel C. Kalor Netralisasi
|
|
Volume
(mL)
|
Temperatur pada
menit ke ---
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
6
|
7
|
||
|
HCl 1 M
|
20
|
23.5
|
24
|
24.5
|
|
|
|
|
|
NaOH
1 M
|
20
|
29.5
|
28
|
27.5
|
|
|
|
|
|
Campuran
|
40
|
|
|
|
|
28
|
28.5
|
28
|
Perhitungan
:
QHCl = mHCl x. CAir
x
HCl
= 20 x 10-3 x 4200 x 3.5
= 294 J
QNaOH = mNaOH x. CAir
x
NaOH
= 20 x 10-3 x 4200 x 0.5
= 42
J
QKalorimeter = CKalorimeter
x
Kalorimeter
=
x
2
= 1,888.74 J
QLepas = QTerima
QNaCl = QHcl + QNaOH + QKalorimeter
QNaCl = 294 + 42 + 1,888.74
QNaCl = 2,224.74 J
nHCl = Molaritas x volume(liter) =
1 x (0.02) = 0.02 mol
nNaOH = Molaritas x volume(liter)
= 1 x (0.02) = 0.02 mol
NaOH(Aq)
+ HCl(Aq) àNaCl(Aq)
+ H2O(l)
m : 0.02 mol
0.02 mol - -
r :
0.02 mol 0.02 mol 0.02 mol
0.02 mol
s
: - - 0.02 mol 0.02 mol
5.2 Pembahasan
Pada percobaan pertama, kita
hanya menetukan apakah reaksi kimia tersebut termasuk reaksi eksoterm atau
endoterm. Berdasarkan hasil percobaan kami, kami mendapati bahwa setelah
terjadi reaksi tersebut, tabung reaksi terasa lebih dingin dari sebelum reaksi
dimulai. Maka dalam reaksi ini terjadi
penyerapan kalor dari lingkungan / area sekitarnya ke dalam system. Sehingga
inilah yang membuat hasil reaksi terasa dingin. Dari ciri khas hasil larutan
yang dingin, maka dapat ditentukan bahwa reaksi dari ammonium klorida dan asam
klorida adalah reaksi endoterm.
Pada percobaan kedua, kita
mencari berapa kalor jenis dari calorimeter. Mengikuti hukum hess dan asas
black. Maka dalam keadaan ini, air panas merupakan kalor yang dilepas.
Sedangkan air dingin dan calorimeter mendapat / menyerap panas dari air panas.
Sehingga saat keduanya dicampurkan dalam calorimeter, mereka mampu menghasilkan
suhu campuran. Mengikuti hukum hess, yang mengatakan bahwa kalor hanya terlihat
dari reaksi awal dan akhir, maka perhitungan perbedaan suhu hanya terjadi pada
sebelum dicampurkan di menit ke 3 dan menit awal setelah dicampurkan. Lalu
diambil suhu ke 5 karena di saat itulah proses pelepasan dan penerimaan kalor
terjadi secara optimal.
Pada percobaan ketiga, kita
harus menentukan berapa perubahan entalpi dari suatu reaksi. Entalpi merupakan total
energy dari suatu termodinamika. Dalam perhitungan, entalpi didapat dari minus
kalor total / kalor NaCl yang telah kita dapatkan dibagi dengan mol air.
Walaupun kita menggunakan larutan asam klorida dan natrium hidroksida, namun
kita tetap menggunakan kalor jenis dan massa jenis air. Hal ini karena
konsentrasi HCl dan NaOH masih rendah, sehingga penyusunnya dominan air. Dari
hasil perhitungan yang telah dilakukan, ternyata reaksi yang terjadi antara
asam klorida dan natrium hidroksida adalah reaksi eksoterm. Hal ini karena
perubahan entalpinya bernilai negatif.
VI. Kesimpulan
Bahwa dari percobaan ini, disimpulkan bahwa reaksi
ammonium klorida dan asam klorida adalah reaksi endoterm. Kalor jenis dari
calorimeter yang digunakan adalah
Sedangkan kalor reaksi NaCl adalah 2,224.74
Joule,
sehingga perubahan entalpinya adalah - 111,237
.
VII.
Daftar Pustaka
Gunadarma.
(Tanpa Tahun). Termokimia. Diperoleh 21 Oktober 2017
Universitas
Jember. (2013). Kalorimeter. Diperoleh 18 Oktober 2017
Universitas
Jember. (2013). Penerapan Kalorimeter dalam Fisika. Diperoleh 18 Oktober 2017
Wijayanti,
Widya. (Tanpa Tahun).Pengindentifikasian Entalpi Bahan Bakar Padat (Char) dan
Cair (Tar) Hasil Proses Pirolisis Biomasa. Diperoleh 18 Oktober 2017
Widjajanti,
Endang. (2004). Termokimia. Diperoleh 18 Oktober 2017
file:///C:/Users/User/Downloads/ppm-termokimia.pdf
Comments
Post a Comment